Sampai Kapanpun Kau Kusayang, Anakku

Sebelum kau masuk gerbang sekolah, kusempatkan bersalaman, cium tangan, cipika cipiki..(cium pipi kanan kiri).. sudah hampir 5 tahun usiamu anakku,bulan depan. Kau sudah cukup besar, tidak terasa. kukira baru beberapa saat lalu kau masih bayi. Kini adikmu menggantikan posisimu digendonganku.

Kalau aku sedang asyik bercanda dengan adik, kau selalu bilang “aku juga ma”. Kalau aku cium adek, kau juga bilang “aku juga ma”, kalau aq perlakukan adek yang masih bayi, kaupun meminta perlakuan yang sama. awalnya terasa aneh, tidak lucu, jayus atau apalah istilahnya. karena bagiku kau sudah besar, sudah tak perlu diperlakukan seperti bayi.

Tapi hari ini aku sadar, aku tak ingin mencegahmu bermanja padaku sampai berapapun usiamu. Tak ingin kulestarikan tradisi masyarakat dimana anak yang dianggap sudah besar,sudah tak layak lagi bermanja atau mendapat belaian lembut ibunda. karena dianggap memanjakan anak sama dengan membuatnya tidak bisa mandiri. Buktinya, berapa banyak anak yang dididik penuh kekerasan, tapi toh tidak membuat ia berdikari ketika dewasa, tak membuat ia mampu menyelesaikan problematika hidup dengan baik. Dan berapa banyak anak yang dididik penuh kasih sayang, tetapi mampu menghadapi berbagai ujian hidup dengan ketegaran luar biasa. Bagiku manja dan mandiri itu bisa berjalan beriringan.

Suatu hari nanti, akan tiba masanya. Ketika kau tak mau lagi dicium, tak mau digandeng, bahkan ada masa ketika kau hanya ingin bersama teman-temanmu, atau menginginkan waktu untuk dirimu sendiri. Saat masa itu tiba, aku pasti akan merindukan panggilan manjamu, teriakanmu minta kutemani, minta dipeluk, digendong, dicium. Aku akan rindu menyiapkan bekal sekolahmu, memandikan dan menyuapimu. Tapi tak apa.. bagiku itu tak penting. Aku bangga melihatmu mandiri. Hanya,yang menjadi harapanku adalah, ketika masa itu datang, aku ingin menjadi teman terbaikmu. Bukan sebagai sosok orang tua otoriter yang seperti bos. Bukan sebagai ibu yang selalu melatih kedisiplinan seperti ketika aku melatihmu disiplin sewaktu kecil. Karena kau sudah dewasa,kau tahu benar dan salah,tak selamanya aku memarahi dan mengatur seperti bos kan? maka ijinkanlah aku menjadi temanmu. Menjadi teman diskusimu, tempat keluh kesahmu. Dan kau juga masih bisa bermanja padaku sampai kapanpun kau mau. Kau boleh minta dibuatkan bekal,minta disuapi, kau bisa minta dibacakan dongeng, tidur dipangkuanku. Kau boleh anakku,bahkan adik-adikmu juga boleh sampai kapanpun.

Kau mungkin kelak akan punya sahabat disekolahmu, dikampusmu, di komunitasmu. Kau punya teman diskusi yang smart, berwawasan luas, berpandangan modern. Mungkin saat itu aku sudah terlalu kuno bagi zamanmu. Barangkali juga sebagian temanmu menganggap berdiskusi dengan orangtua tidak menyenangkan, gak asyik, gak gaul, gak mengerti jiwa muda.. itu wajar. Aku dulu juga pernah merasakan itu saat remaja. Tapi, percayalah, pengalaman kami, orang tuamu, dalam mengarungi manis pahitnya hidup berpuluh tahun tidak dimiliki oleh kawan-kawanmu. Pengalaman itulah yang membuat para orang tua lebih bijak dalam memandang persoalan hidup. Kau boleh lahap semua bku psikologi, sosiologi, atau apalah ilmunya. Itu akan bagus untuk bekalmu bernasyarakat. Tapi kau tetap akan butuh pertimbangan dan ilmu dari kami yang telah berguru pada universitas kehidupan dan menyandang gelar sarjana ‘pengalaman’

Percayalah kepada kami orang tuamu..

Kamilah orang yang paling menyayangimu, diantara teman-temanmu. Kamilah yang pertama kali bersedih jika kau bersedih, dan kami yang pertama berbahagia atas kebahagiaanmu. Kami selalu menginginkan yang terbaik untukmu, meski kadang kau tidak sejalan. Maafkanlah kami yang memiliki keterbatasan, tak luput dari kesalahan dalam mendidik dan membesarkan kalian.

Maafkanlah jika kami bersalah, ingatkanlah jika kami menyimpang. Berbicaralah dengan baik, terbuka dan hapus segala buruk sangka terhdap kami.

Jika kalian bersalah, maaf kami selalu terbuka.
Jika kalian menyimpang, teguran kami selalu datang.
Jika kalian sedih, gelisah, ungkapkanlah apa yang menjadi masalah.
Jika kalian berbahagia, berceritalah.. kami pun akan bahagia

Rumah kecil ini, semoga menjadi tempat paling nyaman dan paling kau rindukan dimanapun kau menjejak.

Kelak, jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai tempat paling nyaman dan menentramkan.
Bukan sekedar tempat persinggahan.
Jadikan rumah-rumah kalian tempat melepas segala kepenatan
Tempat berbagi beban kehidupan
Tempat bermuara kerinduan
Tempat mengisi ulang energi, menggali motivasi, sumber inspirasi
Baity jannaty…

Maka saat kalian keluar dari rumah, kalian telah mendapat semangat baru untuk berbuat kebaikan sebesar-besarnya, untuk menoreh manfaat sebanyak-banyaknya. Untuk berjuang demi agama dan ummat

Tuban 13/10/2013
Sepenuh cinta mama

me, grandma and kiddos

Nasehat untuk anakku (part 2)

Teman kamu juara nak?
Kamu mau seperti dia?
Itu sangat bagus..
Tapi tak harus
Karena bukan untuk itu kamu belajar..

Kamu tak harus juara nak, tapi kamu harus bisa

Sekolah itu menyenangkan
Jangan jadikan sebagai beban
Nikmatilah semua proses pembelajaran
melewati setiap tahapan
Menaklukan tantangan
Mengalahkan rintangan
Mengukir prestasi untuk kepuasan
Dan bukan inginkan pujian

Kamu tak harus juara nak, tapi kamu harus bisa

Nasehat untuk anakku (part 1)

Teman kamu mencontek nak?
Dan nilainya bagus?
Kamu merasa tak adil?
Sabarlah anakku sayang
Nilai hanya sebuah symbol
Percayalah, mereka sama sekali tak bangga
Atas perbuatannya
pujian datang terasa hampa
Karena dalam hatinya
Ia tahu perbuatanya tak mulia

Jangan iri dengan mereka
Yang ingin segalanya
Tanpa usaha
Nilainya mungkin diatas rata-rata
Tapi kalau kau tanya
Mereka mungkin tak bisa

Kasihan temanmu nak
Bersekolah dengan beban
Inginkan pujian
Takut kekalahan
Merinding pada kegagalan

Carilah ilmu
Sekali lagi anakku,
Karena itu menyenangkan
Kau akan temukan keindahan
Kau dapat melihat seluruh dunia
Dari tempat kakimu berpijak
Kau bisa tahu banyak rahasia
Dari makhluk paling kecil tak kasat mata
Sampai benda-benda diangkasa

Dengan ilmu kau bisa menggenggam dunia
Kau akan maju anakku
Dengan ilmu kau mengenal Tuhanmu
Dengan ilmu kau yakini kebesaran Tuhanmu

Nilaimu tak perlu dapat pujian
Tapi pribadimu hiasilah dengan kebaikan
Junjung tinggi kejujuran
isi harimu dengan ketaatan pada Tuhan
Manfaatkan waktumu dengan ketekunan

Kau akan bisa anakku..
Kau akan raih cita-citamu
Dengan doa
Dengan usaha
pantang putus asa
Bersama restu ayah bunda
Kami yakin kau pasti bisa

Untuk anak-anakku
Rengel, 27 desember 2008

Doa untuk anak-anakku

Sungguh bahagia aku,menyaksikan mereka tumbuh detik demi detik

dari bayi mungil, duduk, merangkak..
Mengucapkan sepatah demi sepatah kata.. Berdiri lalu berjalan

menyaksikan mereka tertidur pulas sungguh menjadi pelipur duka, luruh sgala kepenatan

Ya Rabb.. Ampuni hamba..
Yang hingga kini masih belum mampu mendidik mereka seperti yang Engkau perintahkan

Maafkan hambaMu ini.. Yang tak jua mampu mengelola emosi ketika tingkah mereka semakin menguji kesabaran

wahai Dzat Yang Maha Sempurna.. Hanya Engkau yang bisa menjaga mereka dg Sempurna..
Hanya Engkau yang bisa memahami mereka paling sempurna..
Dan.. Hanya Engkau yang bisa memberi petunjuk paling tepat dan sempurna

Maka..hamba memohon jadikanlah mereka kelak..sebagai hambaMu yang bertaqwa
Yang mencintai-Mu dan Engkaupun Mencintai Mereka
Yang Meletakkan cinta padaMu diatas segalanya

Ya Rabb.. Sampaikanlah usia kami orang tuanya.. Untuk mendidik dan menyertai mereka.. Hingga mereka menggenggam kesuksesan

Takut dan cinta

Rasa takut itu seperti 1 ember air. Jika 3/4 nya adlh takut pd manusia dan yg lainnya,maka 1/4ny takut pd Allah. Smakin besar ketakutan pd selainNya smkin kecil rasa takut pdNy.. Ini berakibat smkin kerdil dia dihadapan Allah dan smua makhluk
sebaliknya,smkin besar rasa takut pd Allah,smkin kecil rasa takut pd selainNy. Sehingga semakin dia dikasihi Allah dan dihargai smua makhluk

cinta krn Allah itu seperti mata air. Mata air yg tak prnah habis. Mata air itu mengalir.smkin banyak cinta dibagi pada sesama,semakin dia menganak sungai..membesar,melebar.

Cinta krn Allah sprti pohon,smakin byk yg dicintai,smakin banyak cabangnya,smakin tebal daunya dan semakin meneduhkan..

Seperti harta.. Semakin dia dibagi, semakin brmanfaat dan semakin meluaslah rizki kita seperti mata air yg menganak sungai

makin banyak dibagi semakin meneduhkan hati kita,bagai pohon dg naungan rimbun dedaunan

Kekuatan berpikir positif

Tahukah anda bahwa berpikir positif itu memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Sama tingginya dengan peluang untuk sukses menggenggam cita-cita dari kekuatan berpikir positif.

Maka pikiran positif yang kuat adalah milik orang orang hebat dan calon pemenang.

Ini saya tulis berdasar pengalaman. Menulis dan posting dua artikel panjang. Tapi terhapus karena error. Energi dan pikiran jadi terasa negatif. But.. I’ll never quit. Couse quitter never win..

Tetep semangaadh. Menulis apa ajah. Yang penting hari ini bisa posting tulisan. Hehe

salam semangat..

makna ikhlash

Memaknai Keikhlasan
oleh Endang TS Amir Senin, 18/01/2010 07:52 WIB Cetak | Kirim | RSS

Pernahkah anda merasa berhak mengatur hidup orang lain karena besarnya jasa anda terhadap orang tersebut? Pernahkah anda merasa harus dihargai dan diperlakukan lebih oleh seseorang karena anda banyak memberikan bantuan terhadap orang tersebut? Jika pernah, inilah yang namanya penyakit “TIDAK IKHLAS”.

Saya pernah, makanya tulisan ini saya buat, sebagai pengingat bagi diri saya pribadi. Ini terjadi puluhan tahun lalu, ketika saya belum menikah. Alhamdulillah, Allah memberi rezeki yang cukup, sehingga saya dapat membantu seseorang membiayai sekolahnya. Kemudian Allah menguji saya dengan sikap anak tersebut yang tidak simpatik. Tenyata pertahanan saya jebol, saya menegur anak tersebut. Si anak tidak terima, padahal saya sudah mengungkapkannya dengan bahasa yang santun.

Si anak mengatakan bahwa saya tidak berhak mengatur hidupnya. Si anak mengatakan kalau mau bantu ya bantu saja ga usah pake ngatur-ngatur.

Pada awalnya saya “marah” dengan sikap dan ucapan anak tersebut. Pada akhirnya saya menyadari bahwa anak tersebut benar. Terlepas dari sikapnya yang sebenarnya tidak pantas, tapi anak ini BENAR-dari sudut pandang saya. Lewat anak inilah sesungguhnya Allah sedang memberi pelajaran kepada saya.

Dari anak inilah saya belajar tentang sungguh-sungguh berbuat tanpa embel apa-apa, apapun yang terjadi.

……

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa kesal ketika seseorang tidak melakukan apa-apa yang kita inginkan, padahal kita telah memberinya bantuan financial tiap bulan.

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa marah ketika seseorang bersikap biasa saja kepada kita, padahal orang tersebut dapat melakukan ini dan itu berkat sokongan dan bantuan dari kita. Kekesalan dan kemarahan itu, namanya penyakit ‘TIDAK IKHLAS”.

Dan virus penyakit ini, menyebar setiap saat, setiap waktu dan sepanjang masa. Oleh sebab itu sesering mungkin kita perlu divaksinasi. Vaksinnya bisa berupa do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada-Nya, sang pembolak-balik hati manusia, agar kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal semata-mata karena-Nya.

Sosok agung penghulu wanita-wanita surga, yaitu Fatimah Az-Zahra r.ha saja, melafalkan do’a tersebut dalam ritual kesehariannya. Mustinya kita berbuat lebih.

…….

Ikhlas adalah mengosongkan hati dari seluruh motivasi pribadi dalam melakukan amal akhirat. Jadi orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadinya atau orang yang tidak mengharapkan imbalan duniawi atas apa-apa yang telah diperbuatnya. Hatinya hanya tertuju kepada Allah. Seperti yang dikatakan Imam Ali r.a bahwa orang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah…

Dalam bahasa sederhana saya, ikhlas adalah ketika kita melupakan amal-amal yang telah kita lakukan. Sebagai contoh yang termudah adalah (Maaf) ketika kita selesai membuang hajat. Apa yang kita rasakan selesai melakukan? Lega,…dan yang pasti kita lupakan. Pernahkah kita menyesali apa yang telah kita keluarkan? Tidak khan? Mengungkit-ngungkitnya? Tidak khan?

Dalam bahasa sederhana saya juga, ikhlas adalah ketika kita tidak merasa melakukan. Maka, apapun yang terjadi setelah kita melakukan suatu amal tidak menyisakan rasa apa-apa dalam hati kita. Sebagai contoh, ketika kita menolong seseorang, dan orang tersebut boro-boro membalas kebaikan kita, berterimakasih saja tidak. Maka atas tindakan orang tersebut kita tidak merasakan apa-apa, tidak kecewa, tidak kesal apalagi marah, wong kita tidak merasa berbuat. Inilah cara saya memahami keikhlasan.

Sebagaimana saya tuturkan diatas, virus penyakit tidak ikhlas menyebar sepanjang masa, maka kita dianjurkan agar menjaga keikhlasan kita sepanjang hayat. Dimulai ketika hendak berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat. Dan yang terakhirlah yang paling sulit, terkadang kita mampu ikhlas saat hendak berbuat dan ketika berbuat,…namun seiring berjalannya waktu, kita terbujuk bisik rayu syaithan untuk membeberkan amal-amal baik yang kita perbuat. Pada saat itulah, gugur amal-amal kita.

Terkadang kita merasa berjasa telah menolong seseorang dan merasa perlu mendapatkan ucapan terimakasih. Padahal kitalah yang harusnya berterimakasih, karena kesulitan orang tersebut, Allah membuka jalan bagi kita untuk berbuat baik, yang berarti Allah membuka ladang amal untuk kita.

Terkadang pula kita merasa perlu menyebut-nyebut apa yang telah kita sedekahkan kepada seseorang atau senantiasa mengingatkan betapa besar jasa kita kepada orang lain atau betapa banyak bantuan yang telah kita berikan, padahal Allah berfirman;

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262)

Fenomena yang sering kita dapatkan, betapa banyak ibu-ibu yang ketika anaknya berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, keluarlah “wejangan” tentang betapa besar jasa ibu dari mulai mengandung, melahirkan, mendidik, dan lain-lain… semata-mata untuk membuat anak merasa berhutang budi. Padahal sesungguhnya itu semua memang kewajiban seseorang ibu. Dan alangkah malangnya ibu tersebut, karena apa-apa yang telah dilakukannya dalam mengasuh anak-anaknya terkesan berpamrih. Dan yang namanya ada pamrihnya, yaaa “TIDAK IKHLAS.” (Ya Allah, lindungilah kami para kaum ibu, dari sifat pamrih dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami. Amiin)

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah Azza Wajalla TIDAK menerima suatu amal kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan hanya mengharap keridhaan-Nya.” (HR Abu Dawud dan An Nasai)

Dikisahkan, pernah Ibunda Aisyah r.ha Menyedekahkan kurma, kemudian beliau bungkus kurma tersebut dengan baik dan memberinya wewangian. Hal tersebut membuat hamba sahayanya heran,”Mengapa kau melakukan itu?” kemudian Aisyah r.ha menjawab “Tahukah kamu bahwa sedekah itu akan jatuh ke tangan Allah terlebih dahulu sebelum jatuh ke tangan penerimanya.” Maka ketika kita menyebut-nyebut apa yang telah kita berikan, sama saja kita mengambil kembali apa yang telah kita berikan dari tangan Allah.

Ada 2 syarat diterimanya sebuah amal yaitu; dilakukan dengan cara yang Ikhlas dan Benar. Ikhlas berarti dikerjakan hanya karena Allah dan Benar berarti sesuai tuntunan sunnah.

Marilah kita memperbanyak do’a agar Allah mengaruniakan kepada kita sifat Ikhlas dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.

Ummu Ali, dalam pergulatannya untuk ikhlas