Yang Unik dari Pendidikan di Indonesia

1. Anak berhak mendapat
a. Kesenangan
b. Pendidikan
c. Kasih sayang

2. Setiap anak berhak mendapat
a. Makan
b. Pakaian
c. pendidikan

3. Apa yang sebaiknya kamu lakukan saat istirahat?
(Gambar anak serius membaca di perpustakaan)

Beberapa pertanyaan dari Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan kelas 1 SD itu begitu mengusik pikiran saya. Sekilas mungkin tidak tampak aneh, tapi begitu dicermati rasanya janggal sekali. Saya yakin banyak pertanyaan janggal seperti itu di LKS lain, sebab saya sering menemukannya.

Bagaimana jika anda diberikan pertanyaan nomor 1 dan 2 diatas? Saya kira anda juga akan bingung. Sebab ketiga opsi jawaban yang dicantumkan semuanya adalah hak anak. Betul tidak?
Anak berhak mendapat kesenangan, pendidikan dan kasih sayang. Begitu pula dengan makanan, pakaian dan pendidikan semua adalah juga hak anak dari orang tuanya. Rancu..

Adapun yang menggelitik dari pertanyaan ketiga adalah gambar yang dicantumkan (yang sekaligus merupakan jawaban dari soal). Mengacu pada gambar, artinya bahwa yang seharusnya dilakukan anak ketika jam istirahat adalah membaca buku/belajar di perpustakaan. Jika betul demikian, Aduhai betapa jenuhnya…

Seharusnya waktu istrahat adalah waktu bebas untuk anak. Mereka bebas memilih mau bermain, makan di kantin, beli jajan, membaca bagi yang hobi, ngobrol dengan teman, atau bahkan tidur sekalipun. Itu semua adalah hak anak. Otak bukanlah mesin yang tak memiliki rasa jenuh. Oleh sebab itu waktu istirahat memang dialokasikan untuk menghilangkan kejenuhan itu. Istirahat adalah saat bagi mereka untuk merefresh pikiran agar mereka lebih segar dan lebih siap untuk memasuki kelas dan memulai pelajaran selanjutnya.

Sekarang saya ingin bertanya kepada anda, bagaimana jika anak menjawab pertanyaan tersebut diatas dengan jawaban yang tidak sesuai kunci jawaban LKS? Tentunya salah bukan? Dan jika soal tersebut muncul dalam ujian, maka akan berpengaruh pada nilai anak. Padahal jawaban anak tidak sepenuhnya salah. Jawaban tergantung pada masing-masing anak.

Saya masih ingat ada sebuah soal ujian anak. Dalam soal tersebut tergambar seorang wanita menggendong dan memeluk seorang anak. Pertanyaan dalam soal tersebut adalah “gambar tersebut menunjukkan kasih sayang…” uniknya ada anak yang menjawab “pembantu”.
Jelas bukan itu jawaban yang seharusnya, dan sudah pasti jawaban si anak salah. Tapi setelah direnungi, pembantu/babysitter/pengasuh juga melakukan hal tersebut. Terlebih bila sang ibu adalah wanita yang memiliki kesibukan dan mobilitas tinggi dengan kata lain jarang memiliki waktu banyak untuk buah hati mereka. Jawaban salah dari anak yang lugu itu adalah jawaban sepolos fithrah. Tak ada kebohongan ataupun tendensi tertentu. Jawaban yang salah itu bisa menjadi benar bila kita melihat dari sudut pandang lain. Sudut pandang si anak.

Sayangnya sistem mengharuskan guru menilai sesuai kunci/ sesuai dengan buku panduan. Lebih parah lagi, nilai pelajaran dari sekolah ini sering digunakan untuk menjustifikasi pintar atau bodohnya seorang anak.atau bahkan nilai tersebut dianggap sebagai hasil belajar anak. Jika nilai jelek artinya si anak malas belajar, jika bagus berarti si anak rajin. Setelah nilai keluar, sebagian ada yang menuai pujian, yaitu mereka yang nilainya sangat baik dan berprestasi. Sebagian lain mendapat marah ketika nilainya buruk. Dan sebagian lain, yang walaupun nilainya tergolong sedang, tak mendapat respon apapun dari orang tua dikarenakan tak ada yang istimewa dari nilai yang sedang-sedang saja. Kadangkala tak ada apresiasi untuk kerja keras mereka, bahkan sebagian orang tua masih menginginkan anak untuk meningkatkan nilai meskipun nilai anak sudah tergolong baik.

Memang wajar orang tua menginginkan lebih baik, toh semua juga demi masa depan anak. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai motivasi kearah kebaikan itu berubah menjadi tekanan yang menakutkan anak. Masih segar dalam ingatan saya tentang kisah bunuh diri seorang anak gara-gara UAN. Barangkali dia mengalami tekanan yang cukup hebat dari dalam dirinya sendiri. Sebab nilai UAN itulah yang menjadi nilai dia dimata guru, orang tua, bahkan masyarakat. Sudah umum bahwa yang berprestasi dibanggakan, yang nilainya standart atau minimalis masih bersyukur sudah bisa lulus, dan yang tidak lulus harus menelan kenyataan pahit yang pastinya berdampak besar pada psikologi/kejiwaannya. Kasihan..

Anak-anak itu terlalu berharga untuk diberi label harga dengan nilai UAN,UTS,UAS atau nilai sejenis. Anak-anak itu adalah permata hati kita, yang kelak mewarisi Negara. Mereka adalh asset bangsa. Mereka unik, memiliki bakat dan kelebihan masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Sudah selayaknya kita memberikan dukungan, arahan, motivasi agar mereka berusaha lebih baik lagi, bukan karena nilai tetapi karena kesadaran bahwa yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan masa depan mereka.

Jika revolusi sistem pendidikan belum bisa terlaksana, maka kita bisa mamulai sebuah proses evolusi. Sebuah proses lamban tetapi memiliki dampak yang tidak kecil. Kita mulai dari diri kita sebagai orang tua untuk lebih memahami anak. Memahami kecenderungan, keinginan, cita-cita, bakat atau apa saja agar dapat mengarahkan kea rah yang lebih baik. Dan bagi yang berprofesi guru, semoga dapat menjadi guru yang berdedikasi. Semoga semakin bermunculan ibu muslimah2 dan bapak dewantara2 baru”

(tulisan ini bukan tulisan pakar pendidikan, hanya sebuah curahan hati seorang ibu yang memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mendidik anaknya)

NB:
Untuk direnungkan saja.. Apa benar pelajaran dan materi pendidikan kewarganegaraan, sejarah, social SD,SMP sampai dengan SMU mampu memberikan motivasi cukup kuat bagi kita untuk lebih baik?mampu membentuk karakter kita menjadi manusia bermoral dan berakhlaq mulia? Jika jawabannya tidak.. maka saya rasa iman, agama, keluarga, lingkungan dan kondisi yang menyertai kitalah yang membentuk kita menjadi seperti sekarang ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s