Yang Unik dari Pendidikan di Indonesia

1. Anak berhak mendapat
a. Kesenangan
b. Pendidikan
c. Kasih sayang

2. Setiap anak berhak mendapat
a. Makan
b. Pakaian
c. pendidikan

3. Apa yang sebaiknya kamu lakukan saat istirahat?
(Gambar anak serius membaca di perpustakaan)

Beberapa pertanyaan dari Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan kelas 1 SD itu begitu mengusik pikiran saya. Sekilas mungkin tidak tampak aneh, tapi begitu dicermati rasanya janggal sekali. Saya yakin banyak pertanyaan janggal seperti itu di LKS lain, sebab saya sering menemukannya.

Bagaimana jika anda diberikan pertanyaan nomor 1 dan 2 diatas? Saya kira anda juga akan bingung. Sebab ketiga opsi jawaban yang dicantumkan semuanya adalah hak anak. Betul tidak?
Anak berhak mendapat kesenangan, pendidikan dan kasih sayang. Begitu pula dengan makanan, pakaian dan pendidikan semua adalah juga hak anak dari orang tuanya. Rancu..

Adapun yang menggelitik dari pertanyaan ketiga adalah gambar yang dicantumkan (yang sekaligus merupakan jawaban dari soal). Mengacu pada gambar, artinya bahwa yang seharusnya dilakukan anak ketika jam istirahat adalah membaca buku/belajar di perpustakaan. Jika betul demikian, Aduhai betapa jenuhnya…

Seharusnya waktu istrahat adalah waktu bebas untuk anak. Mereka bebas memilih mau bermain, makan di kantin, beli jajan, membaca bagi yang hobi, ngobrol dengan teman, atau bahkan tidur sekalipun. Itu semua adalah hak anak. Otak bukanlah mesin yang tak memiliki rasa jenuh. Oleh sebab itu waktu istirahat memang dialokasikan untuk menghilangkan kejenuhan itu. Istirahat adalah saat bagi mereka untuk merefresh pikiran agar mereka lebih segar dan lebih siap untuk memasuki kelas dan memulai pelajaran selanjutnya.

Sekarang saya ingin bertanya kepada anda, bagaimana jika anak menjawab pertanyaan tersebut diatas dengan jawaban yang tidak sesuai kunci jawaban LKS? Tentunya salah bukan? Dan jika soal tersebut muncul dalam ujian, maka akan berpengaruh pada nilai anak. Padahal jawaban anak tidak sepenuhnya salah. Jawaban tergantung pada masing-masing anak.

Saya masih ingat ada sebuah soal ujian anak. Dalam soal tersebut tergambar seorang wanita menggendong dan memeluk seorang anak. Pertanyaan dalam soal tersebut adalah “gambar tersebut menunjukkan kasih sayang…” uniknya ada anak yang menjawab “pembantu”.
Jelas bukan itu jawaban yang seharusnya, dan sudah pasti jawaban si anak salah. Tapi setelah direnungi, pembantu/babysitter/pengasuh juga melakukan hal tersebut. Terlebih bila sang ibu adalah wanita yang memiliki kesibukan dan mobilitas tinggi dengan kata lain jarang memiliki waktu banyak untuk buah hati mereka. Jawaban salah dari anak yang lugu itu adalah jawaban sepolos fithrah. Tak ada kebohongan ataupun tendensi tertentu. Jawaban yang salah itu bisa menjadi benar bila kita melihat dari sudut pandang lain. Sudut pandang si anak.

Sayangnya sistem mengharuskan guru menilai sesuai kunci/ sesuai dengan buku panduan. Lebih parah lagi, nilai pelajaran dari sekolah ini sering digunakan untuk menjustifikasi pintar atau bodohnya seorang anak.atau bahkan nilai tersebut dianggap sebagai hasil belajar anak. Jika nilai jelek artinya si anak malas belajar, jika bagus berarti si anak rajin. Setelah nilai keluar, sebagian ada yang menuai pujian, yaitu mereka yang nilainya sangat baik dan berprestasi. Sebagian lain mendapat marah ketika nilainya buruk. Dan sebagian lain, yang walaupun nilainya tergolong sedang, tak mendapat respon apapun dari orang tua dikarenakan tak ada yang istimewa dari nilai yang sedang-sedang saja. Kadangkala tak ada apresiasi untuk kerja keras mereka, bahkan sebagian orang tua masih menginginkan anak untuk meningkatkan nilai meskipun nilai anak sudah tergolong baik.

Memang wajar orang tua menginginkan lebih baik, toh semua juga demi masa depan anak. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai motivasi kearah kebaikan itu berubah menjadi tekanan yang menakutkan anak. Masih segar dalam ingatan saya tentang kisah bunuh diri seorang anak gara-gara UAN. Barangkali dia mengalami tekanan yang cukup hebat dari dalam dirinya sendiri. Sebab nilai UAN itulah yang menjadi nilai dia dimata guru, orang tua, bahkan masyarakat. Sudah umum bahwa yang berprestasi dibanggakan, yang nilainya standart atau minimalis masih bersyukur sudah bisa lulus, dan yang tidak lulus harus menelan kenyataan pahit yang pastinya berdampak besar pada psikologi/kejiwaannya. Kasihan..

Anak-anak itu terlalu berharga untuk diberi label harga dengan nilai UAN,UTS,UAS atau nilai sejenis. Anak-anak itu adalah permata hati kita, yang kelak mewarisi Negara. Mereka adalh asset bangsa. Mereka unik, memiliki bakat dan kelebihan masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Sudah selayaknya kita memberikan dukungan, arahan, motivasi agar mereka berusaha lebih baik lagi, bukan karena nilai tetapi karena kesadaran bahwa yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan masa depan mereka.

Jika revolusi sistem pendidikan belum bisa terlaksana, maka kita bisa mamulai sebuah proses evolusi. Sebuah proses lamban tetapi memiliki dampak yang tidak kecil. Kita mulai dari diri kita sebagai orang tua untuk lebih memahami anak. Memahami kecenderungan, keinginan, cita-cita, bakat atau apa saja agar dapat mengarahkan kea rah yang lebih baik. Dan bagi yang berprofesi guru, semoga dapat menjadi guru yang berdedikasi. Semoga semakin bermunculan ibu muslimah2 dan bapak dewantara2 baru”

(tulisan ini bukan tulisan pakar pendidikan, hanya sebuah curahan hati seorang ibu yang memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mendidik anaknya)

NB:
Untuk direnungkan saja.. Apa benar pelajaran dan materi pendidikan kewarganegaraan, sejarah, social SD,SMP sampai dengan SMU mampu memberikan motivasi cukup kuat bagi kita untuk lebih baik?mampu membentuk karakter kita menjadi manusia bermoral dan berakhlaq mulia? Jika jawabannya tidak.. maka saya rasa iman, agama, keluarga, lingkungan dan kondisi yang menyertai kitalah yang membentuk kita menjadi seperti sekarang ini

6 Kiat Berdiskusi Seks dengan Anak Remaja

Selasa, 4 Januari 2011 | 13:54 WIB

KOMPAS.com – Orangtua semestinya menjadi tempat bertanya bagi anak-anak, termasuk urusan seks. Edukasi seks di rumah punya peran penting untuk mencegah perilaku seksual pada anak-anak. Jangan hanya bergantung pada sekolah atau lembaga pendidikan di luar rumah untuk mendiskusikan seks. Segera singkirkan kesungkanan atau kejanggalan saat bicara seks, karena edukasi adalah juga tanggung jawab orangtua.

Ciptakan kesempatan
Seks adalah topik yang sulit dihindari, karena isu ini bertebaran di mana saja, melalui pemberitaan di media, acara hiburan ataupun iklan yang muncul hanya sekian menit saja. Meski terkesan mudah sekali membuka pembicaraan seputar seks, namun orangtua dan remaja acapkali sulit memulai obrolan. Agar obrolan seks mengalir lancar, jangan tunggu momen, namun ciptakanlah kesempatan. Anda bisa mengadopsi cara ini:

* Menangkap peluang
Saat Anda dan anak remaja sedang menonton program televisi, yang membahas isu seks bertanggung jawab, angkat topik ini dalam obrolan ringan saat itu juga. Ajak anak remaja Anda berdiskusi, minta pendapatnya. Berbagai kesempatan setiap harinya sangat berharga. Anda bisa memulai diskusi ringan sambil mengendarai mobil, berberes rumah, atau saat memasak di dapur bersama si ABG. Kapan pun Anda dan anak remaja sedang bersama, tangkap peluang emas ini untuk mendiskusikan seks secara lebih cair.

* Bersikap jujur
Anda tak perlu berlagak seperti pakar seks. Jika Anda merasa canggung, katakan saja. Namun juga jelaskan bagaimanapun canggungnya pembicaraan tersebut, Anda dan anak remaja tetap perlu mendiskusikan topik seks ini. Jujur juga diperlukan saat Anda tak menemukan jawaban atas pertanyaan anak remaja Anda. Katakan sejujurnya Anda belum tahu jawaban saat itu, dan ajak anak untuk mencari jawaban bersama.

* Tak perlu basa-basi
Ciptakan diskusi terbuka, tak perlu menggunakan bahasa ambigu atau berbasa-basi. Ungkapkan bagaimana pendapat Anda tentang isu spesifik seperti seks oral atau senggama. Utarakan berbagai risiko perilaku seksual, seperti gangguan emosional, penyakit seks menular, atau kehamilan yang tak terencana.

* Hargai pendapat anak Anda
Bersikap menggurui anak saat mendiskusikan isu tertentu takkan berhasil. Anda perlu menyiapkan telinga selebar-lebarnya untuk mendengarkan pendapat anak Anda. Pahami perasaan anak Anda, begitu juga dengan rasa ingin tahu dan minatnya. Dengarkan lebih sering apa yang menurut anak Anda lebih menarik untuk dibahas seputar seks. Biarkanlah pembicaraan mengalir apa adanya.

* Jangan hanya bicara fakta
Momen baik untuk mendiskusikan seks perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan hanya bicara fakta soal seks. Anda juga perlu mengaitkan isu seks dengan nilai moral. Diskusikan juga seputar etika hingga nilai-nilai keyakinan atau religi. Ajak anak berbagi pendapatnya soal nilai moral.

* Membuka diri
Munculkan kesan kepada anak bahwa Anda selalu terbuka untuk diajak bicara soal seks. Ucapkan penghargaan atas usaha anak untuk bertanya. Katakan bahwa Anda senang dan menghargai pendapat atau pertanyaannya dan senang karena ia mau membicarakan seks dengan Anda.

Langkah preventif dari orangtua
Anak remaja bisa saja melakukan aktivitas seksual layaknya orang dewasa, namun hal ini bisa dihindari dengan langkah preventif Anda sebagai orangtuanya. Berikan dukungan kepada anak dengan bersikap terbuka. Selalu ciptakan kesempatan untuk berbicara dengan jujur dan dari hati ke hati. Jika anak tak merasa atau tak terlihat tertarik membincangkan seks dengan Anda, katakan saja secukupnya dengan melihat situasi dan kondisi. Katakan yang ingin Anda katakan, dengan memancingnya melalui berbagai kasus yang muncul di pemberitaan misalnya. Meski anak bersikap pasif, setidaknya ia mendengarkan Anda bicara dan merekamnya. Langkah ini bisa menjadi salah satu cara mencegah anak dari perilaku seksual tak bertanggung jawab. Selalu jalin komunikasi dengan anak Anda, kapan saja dan di mana saja.
Sumber : Mayo Clinic

80 Persen Anak Indonesia Berpikiran Negatif

Sabtu, 8 Januari 2011 | 16:56 WIB

PERSDA/MELVINAS PRIANANDA

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil survei Pusat Inteligensia Kesehatan Kementerian Kesehatan menyatakan, mayoritas anak Indonesia berpikiran negatif yang dikategorikan sebagai pola pikir tidak sehat.

“Sebanyak 80 persen dari 3.000 responden menggambarkan cara berpikir negatif atau mental block. Ini adalah bentuk kegagalan pertumbuhan otak dari kecil,” kata Kepala Subbidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Inteligensia Anak Kemenkes Gunawan Bam seusai temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat kemarin.

Pusat Inteligensia Kesehatan melakukan survei terhadap anak sekolah, dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengetahui kondisi perkembangan otak anak Indonesia.

Kondisi pikiran yang serba negatif itu, ujar Gunawan, sebagai salah satu akibat dari “keracunan otak” akibat ulah orangtuanya. “Kondisi yang tidak kondusif. Orangtua pemarah bisa berpengaruh langsung ke kondisi kesehatan otak anak,” katanya.

Ia mencontohkan, jika orangtua berbohong atau marah kepada anak, hal itu dapat menyebabkan otak anak menjadi menyusut. Kondisi semacam itu, jika diteruskan, akan mencegah terjadinya pertumbuhan otak normal.

“Ini adalah bentuk kegagalan dari kecil. Sama seperti anak tidak matang dalam merasa, meraba, melihat,” ujar Gunawan.
Namun, ia mengatakan, hal itu bukannya tidak dapat diperbaiki. Beberapa perbaikan sensomotorik dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan kesehatan dan perkembangan otak.

Kemenkes juga akan melakukan brain assessment kepada pegawai pemerintahan bekerja sama dengan Kementerian Aparatur Negara.
“Mudah-mudahan tahun ini akan kita mulai. Paling tidak akan kita awali tahun ini,” kata Kepala Pusat Inteligensia Kesehatan Kemenkes dr Kemas M Akib Aman, SpR, MARS.

Tiga instrumen yang diamati dalam brain assessment itu adalah neuro-behaviour, psikologi dan psikiatri. Metode yang dikembangkan Pusat Inteligensia Kesehatan ini telah divalidasi pada sejumlah responden di sembilan provinsi, yaitu Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Maluku, dan Nusa Tenggara Barat.

Yakult dan Yogurt

YAKULT DAN YOGURT
27 Mei 2009 oleh adha panca wardhanu
(apwardhanu.wordpress.com)

Yoghurt atau yogurt, adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri. Yoghurt dapat dibuat dari susu apa saja, termasuk susu kacang kedelai. Tetapi produksi modern saat ini didominasi susu sapi. Fermentasi gula susu (laktosa) menghasilkan asam laktat, yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan bau yang unik pada yoghurt. Yoghurt sering dijual apa adanya, bagaimanapun juga rasa buah, vanilla atau coklat juga popular (Hidayat, 2006).

Yoghurt dibuat dengan memasukkan bakteri spesifik ke dalam susu di bawah temperatur yang dikontrol dan kondisi lingkungan, terutama dalam produksi industri. Bakteri merombak gula susu alami dan melepaskan asam laktat sebagai produk sisa. Keasaman meningkat menyebabkan protein susu untuk membuatnya padat. keasaman meningkat (pH 4-5) juga menghindari proliferasi bakteri patogen yang potensial. Di AS, untuk dinamai yoghurt, produk harus berisi bakteri Streptococcus salivarius subsp. thermophilus dan Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus (Anonim, 2007).

Pada kebanyakan negara, produk mungkin disebut yoghurt hanya jika bakteri hidup ada di produk akhir. Produk yang telah dipasteurisasi, yang tidak punya bakteri hidup, disebut susu fermentasi (minuman) (Anonim, 2007).
Yoghurt yang telah dipasteurisasi memiliki rentang hidup yang panjang dan tidak membutuhkan kulkas. Yoghurt kaya akan protein, beberapa vitamin B, dan mineral yang penting. Yoghurt memiliki lemak sebanyak susu darimana ia dibuat (Anonim, 2007).

Karena struktur laktosa yoghurt dirusak, maka yoghurt bisa dikonsumsi orang yang alergi terhadap susu. Yoghurt kaya dengan vitamin B (Anonim, 2007). Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan (Hidayat, 2006).

Persamaan Reaksi Kimia

C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per mol)

Dijabarkan sebagai Gula (glukosa, fruktosa, atau sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi (ATP)
Jalur biokimia yang terjadi, sebenarnya bervariasi tergantung jenis gula yang terlibat, tetapi umumnya melibatkan jalur glikolisis, yang merupakan bagian dari tahap awal respirasi aerobik pada sebagian besar organisme. Jalur terakhir akan bervariasi tergantung produk akhir yang dihasilkan (Hidayat, 2006).
Pembuatan tempe dan tape (juga peuyeum) adalah proses fermentasi yang sangat dikenal di Indonesia. Proses fermentasi menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat berguna, mulai dari makanan sampai obat-obatan. Fermentasi yang sering dilakukan adalah proses tape, tempe, yoghurt, dan tahu (Hidayat, 2006).
Yakult adalah minuman susu (fermentasi), yang dibuat dengan memfermentasikan susu bubuk skim yang mengandung bakteri asam laktat hidup, Lactobacillus casei Shirota strain (Anonim, 2007).

Pada tahun 1930, almarhum Dr. Minoru Shirota, pendiri perusahaan Yakult, mengisolasi berbagai jenis bakteri asam laktat dan memilih satu jenis bakteri yang bersifat paling tahan terhadap cairan pencernaan. Di samping itu, Dr. Minoru Shirota juga memperkuatnya sehingga menjadi strain baru yang unggul. Karena itu, berbeda
dengan bakteri lain, bakteri ini dapat menaklukkan berbagai hambatan fisiologis seperti asam lambung dan cairan empedu sehingga dapat mencapai dan bertahan hidup dalam usus manusia. Dari dalam usus bakteri ini membantu meningkatkan kesehatan kita dengan cara mengaktifkan sel-sel kekebalan, meningkatkan jumlah
bakteri berguna dan mengurangi jumlah bakteri yang merugikan. Dengan mengkonsumsi Yakult setiap hari berarti kita memasukkan sekurang-kurangnya 6,5 milyar bakteri Lactobacillus casei Shirota strain hidup (Anonim, 2007).

Usus kita memainkan peran yang penting dalam kesehatan kita. Bahkan proses penuaan pun dimulai dari usus. Karena itu yang terpenting dalam menjaga kesehatan adalah menjaga kesehatan usus. Manfaat Yakult adalah terletak pada bakterinya yang mampu hidup sampai usus kita karena itu bakteri ini dapat memberikan manfaat seperti:
1. Mencegah gangguan pencernaan.
2. Meningkatkan daya tahan tubuh.
3. Meningkatkan jumlah bakteri berguna dalam usus.
4. Mengurangi racun dalam usus.
5. Membatasi jumlah bakteri yang merugikan dalam usus (Anonim, 2006).

Yakult adalah probiotik. Probiotik berasal dari kata probios, yang dalam ilmu biologi berarti untuk kehidupan. probiotik adalah pangan mengandung mikroorganisme hidup yang secara aktif meningkatkan kesehatan dengan cara memperbaiki keseimbangan flora usus jika dikonsumsi dalam keadaan hidup dalam jumlah yang memadai. Oleh karena itu untuk dapat disebut probiotik, bakteri harus mempunyai persyaratan sbb:
1. Terbukti aman bagi manusia.
2. Dapat mencapai usus dalam keadaan hidup.
3. Terbukti bermanfaat (Anonim, 2006).

Probiotik adalah suplemen diet yang mengandung bakteri berguna dengan asam laktat bakteri (lactic acid bacteria – LAB) sebagai mikroba yang paling umum dipakai. Laboratorium telah dipakai dalam industri makanan bertahun-tahun karena mereka mampu untuk mengubah gula (termasuk laktosa) dan karbohidrat lain menjadi asam laktat. Ini tidak hanya menyediakan rasa asam yang unik dari dairy food fermentasi seperti susu fermentasi, tapi juga berperan sebagai penyedia, dengan cara mengurangi pH dan membuat kesempatan organisme merugikan untuk tumbuh lebih sedikit (Anonim, 2006).

Probiotik seringkali direkomendasikan oleh dokter dan lebih sering lagi oleh ahli nutrisi, setelah pengkonsumsian antibiotik, atau sebagai bagian dari pengobatan candidiasis. Banyak probiotik disediakan dalam sumber alaminya seperti Lactobacillus pada yoghurt dan sauerkraut. Beberapa mengklaim probiotik mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh (Anonim, 2006).

Tipe probiotik
Bentuk yang paling umum dari probiotik adalah produk peternakan dan makanan probiotik. Bagaimanapun juga, tablet dan kapsul berisikan bakteri dalam kondisi dibekukan juga dapat ditemukan. Beberapa probiotik umum meliputi berbagai spesies dari genera Bifidobacterium dan Lactobacillus seperti:
– Bifidobacterium bifidum
– Bifidobacterium breve
– Bifidobacterium infantis
– Bifidobacterium longum
– Lactobacillus acidophilus
– Lactobacillus casei
– Lactobacillus plantarum
– Lactobacillus reuteri
– Lactobacillus rhamnosus
– Lactobacillus GG (Anonim, 2006).

Ada pula satu spesies ragi yang digunakan sebagai probiotik:
– Saccharomyces boulardii

Beberapa bakteri yang umum dipakai dalam produk tapi tanpa efek probiotik (bakteri yoghurt):
– Lactobacillus bulgaricus
– Streptococcus thermophilus (Anonim, 2006).

Beberapa bakteri lain disebutkan dalam produk probiotik:
– Bacillus coagulans
– Lactobacillus bifidus
– Lactobacillus caucasicus (Anonim, 2006).

Membentuk Kemandirian Anak

Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul tiba-tiba tetapi perlu diajarkan pada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Kemampuan bantu diri inilah yang dimaksud dengan mandiri. Kemandirian fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Sedang kemandirian psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah sendiri.
Ketidakmandirian fisik bisa berakibat pada ketidakmandirian psikologis. Anak yang selalu dibantu akan selalu tergantung pada orang lain karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Akibatnya, ketika ia menghadapi masalah, ia akan mengharapkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan bagi dirinya dan memecahkan masalahnya.
Menurut Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M.Si., dosen Psikologi Perkembangan Universitas Indonesia Jakarta, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian anak :
1. Faktor bawaan.
Ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain
2. Pola asuh.
Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.
3. Kondisi fisik anak.
Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.
4. Urutan kelahiran.
Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpengalaman. Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.
Untuk mengajarkan anak menjadi mandiri, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan kepada anak. Menurut Dra. Tjut Rifameutia Ali-Napis, M.A, dosen Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia, bantuan berlebihan bisa mensugesti anak bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu sendiri.
Ada dua alasan yang menyebabkan orang tua cenderung memberikan bantuan dan perlindungan berlebihan. Yang pertama karena khawatir. Padahal, orang tua yang terlalu khawatir akan membatasi anak untuk mencoba kemampuannya.
Bila perlindungan berlebihan berlanjut terus sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka anak akan selalu mengharapkan bantuan orang lain setiap kali ia menghadapi masalah.
Alasan kedua, karena orang tua tidak sabar. Ketimbang menunggu anak berusaha memakai sepatunya sendiri, orang tua cenderung lekas membantu agar cepat selesai. Akibatnya, anak tidak memperoleh kesempatan untuk mencoba.
Belajar mandiri memerlukan bantuan dan bimbingan orang tua. Hasilnya akan nampak bila orang tua rajin dan konsisten memberikan stimulus. Kemandirian hanya bisa dicapai melalui suatu tahapan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. Misalnya, anak usia 6 tahun tidak bisa begitu saja dapat makan sendiri bila tidak pernah diberi kesempatan memegang sendok sejak usia 18 bulan.
Oleh karena itu, latihan kemandirian mesti dimulai sejak dini sesuai dengan usianya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan sekolah untuk menempa anak menjadi mandiri, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sekolah.
Untuk dapat mengukur kemandirian anak, maka diperlukan pengetahuan mengenai kemampuan apa saja yang bisa diajarkan padanya. Bila kemampuan-kemampuan itu belum dikuasai pada usia yang seharusnya, maka si anak bisa dikategorikan tidak mandiri. Anak usia SD masih disuapi dan dimandikan, misalnya, bisa disebut sebagai anak yang tidak mandiri.
PENILAIAN TINGKAT KEMANDIRIAN SESUAI USIA DAN STIMULUS YANG PERLU DIBERIKAN
Diperlukan ketekunan dan kesabaran orang tua untuk melatih anak menjadi mandiri sesuai usianya. Perlu diingat, keberhasilan yang dicapai anak pada tiap tahapan usia akan berbeda-beda, sesuai stimulus yang diberikan kepadanya.
BAYI
Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, sejak usia 4 bulan bayi sudah bisa diajar beraktivitas menggunakan tangan sebagai dasar keterampilan membantu diri.
1. Meraih dan memasukkan makanan (mulai usia 6 bulan)
Stimulus : letakkan biskuit di piring atau acungkan ke depan bayi. Usahakan terlihat oleh bayi sehingga ia akan berusaha meraihnya.
2. Memegang gelas dan meminum isinya (mulai usia 9 bulan)
Stimulus : sediakan cangkir bergagang dari plastik atau melamin. Isi dengan sedikit air dan biarkan bayi meraih sendiri dan meminum isinya. Biarkan bila ada yang tumpah atau berceceran di baju. Melalui dua aktivitas ini, bayi akan belajar bahwa ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, yaitu makan dan minum tanpa bantuan orang lain.
3. Merentangkan tangan dan kaki saat mengenakan pakaian (mulai usia 10 – 11 bulan)
Stimulus : katakan,” Adek, Mama pakaikan baju ya.. Ayo angkat tangannya..”. Ulanglah kalimat tersebut sampai anak mau mengikutinya. Bayi akan belajar bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memudahkan kita saat membantunya berpakaian.
4. Melepas topi dan kaus kaki (mulai usia 11 – 12 bulan)
Ini adalah dasar kemampuan anak untuk melepas pakaian.
Stimulus : berikan contoh bagaimana cara melepas topi atau kaus kaki. Coba untuk memasangkan topi atau kaus kakinya lagi. Umumnya anak akan mencoba melepaskan karena rasa ingin tahu yang besar. Lakukan berulang-ulang agar anak mendapat banyak kesempatan untuk mencoba.
5. Melakukan dua tugas sekaligus (mulai usia 12 bulan)
Stimulus : berikan biskuit, biarkan ia meraih dengan salah satu tangan. Lalu berikan mainan, biarkan ia meraih dengan tangan yang masih kosong. Bila ia memasukkan mainan, beri tahu ia bahwa mainan tidak boleh dimasukkan ke mulut, sedangkan biskuit boleh. Kemampuan seperti ini akan menjadi dasar yang membuat anak bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.
ANAK USIA 1 – 3 TAHUN
Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, anak usia di atas satu tahun sudah memiliki lebih banyak kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Berbagai kemampuan motorik dan interaksi dengan lingkungan juga sudah lebih berkembang.
1. Minum dari gelas tanpa bantuan (mulai usia 15 bulan)
Stimulus : berikan gelas platik berisi air yang tidak terlalu penuh. Minta anak memegang sendiri dengan tangannya. Biarkan ia melakukannya sambil berdiri atau berjalan. Ganti jenis gelas (gelas bergagang dan tidak bergagang) untuk melatih motorik halusnya.
2. Memakai sendok untuk makan (mulai usia 18 bulan)
Stimulus : berikan sendok dan piring berisi makanan porsi kecil dan biarkan anak mencoba menyuap sendiri makanannya. Maklumi bila makanan masih tumpah dan berhamburan.
3. Membuka sepatu, celana dan baju sendiri (mulai usia 2 tahun) serta ristleting (mulai 3 tahun)
Stimulus : awali dengan melatih anak membuka sepatu tak bertali atau kaus singlet yang mudah dilepas. Tunjukkan cara menarik sepatu dari telapak kaki atau menarik kaus ke atas kepala. Ulangi contoh bila anak masih mengalami kesulitan. Bila anak sudah mahir, tingkatkan dengan baju berkancing. Ajari cara membuka dan menutup ristleting dengan hati-hati. Bila anak masih ragu, tunggu sampai ia bisa melakukan dengan benar sehingga terhindar dari trauma akibat terjepit ristleting.
4. Meraih gelas di atas meja dan meneguk minuman (mulai usia 2 tahun)
Stimulus : letakkan gelas berisi minuman dalam jangkauan anak, sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri saat ia merasa haus. Bila sudah mahir, tingkatkan dengan memberinya contoh cara menuang air dari teko atau memencet tombol dispenser. Pada tahap ini, orang tua perlu berhati-hati ketika meletakkan minuman panas di atas meja dan disarankan mematikan tombol air panas pada dispenser.
5. Membuka pintu (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : umumnya anak lebih mudah belajar dengan pengangan pintu bertangkai ketimbang bulat. Setiap anak akan keluar kamar, berikan contoh bagaimana cara memutar dan menarik gagang pintu, sambil dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Letakkan tangan anak pada pegangan pintu dan bantu ia memutar ke arah yang benar.
6. Mengatakan ingin buang air (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : cermati kebiasaan anak sebelum BAK dan BAB. Bila Anda melihat dorongan ingin BAK atau BAB, tanyakan kepadanya. Dorong ia untuk mengungkapkan kenginan tersebut. Ajak ia ke kamar mandi, dan jelaskan bahwa BAK dan BAB hanya dilakukan di kamar mandi meskipun si kecil belum bisa melakukannya sendiri.
Pada tahapan usia ini, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan. Ketika anak berusia 1.5 tahun, ia akan mulai menjelajah, menantang dirinya sendiri melakukan sesuatu yang sulit seperti menaiki tangga atau memasuki lorong sempit. Tidak seperti tahapan usia sebelumnya, dimana apapun yang dilakukan anak ditentukan oleh orang tua atau pengasuh, pada usia ini anak mulai memiliki kemauan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Bila ia ternyata bisa melakukannya, akan timbul rasa memiliki kemampuan. Apalagi bila saat itu orang tua memberinya pujian, ia akan merasa bangga dan makin terpacu untuk menunjukkan kemampuannya. Inilah modal bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kepercayaan dirinya.
(http://keluargasehat.wordpress.com)

Jenius.. Berkah yang tak dikenali

Oleh Julia Maria van Tiel
Sumber:http://keluargasehat.wordpress.com

BAGAIMANA bayangan Anda terhadap anak-anak jenius? Apakah Anda membayangkan bahwa anak-anak ini adalah anak penyandang gen perfek berotak encer, gemerlap, dan selalu mendapat medali?
Ternyata masa kecil mereka penuh dengan rasa sedih, duka, dan lara. Semuanya karena apa yang mereka hadirkan baik dari segi perilaku dan kemampuan meraih prestasi di sekolah justru jauh di bawah rata-rata anak normal. Mereka seringkali brutal, keras kepala, semaunya, sulit diatur, dan sering berkelahi. Prestasi di sekolah juga nol.
Sebagian besar anak-anak ini justru tidak survive, banyak dari mereka yang dilatar belakangi oleh ketidak harmonisan rumah tangga, dan tekanan dari pihak sekolah justru membuat mereka melarikan diri ke arah kenakalan remaja, depresi, stres, atau mengalami gangguan biologis karena masalah psikologis (psikosomatis).
Mengapa demikian? Itu semua karena anak-anak ini mempunyai karakter yang sangat khusus. Mereka merupakan kelompok anak tersendiri, yang lain dari anak lain.
Pada masa balita, dokter sering menuding mereka sebagai anak yang mengalami gangguan perkembangan. Baik dari perkembangan fisik, perkembangan psikologis, atau juga gangguan kemampuan bicara, komunikasi, dan sosial.
Waktu di kelas-kelas awal sekolah dasar mereka sering disangka mengalami gangguan perkembangan inteligensia, atau kurang cerdas. Bahkan sering tertuding sebagai pembuat onar di kelas, tidak punya konsentrasi, dan sulit diberi pelajaran, tidak mau membuat pekerjaan rumah, serta membangkang. Di kelas sering melamun, tidur di meja, dan lebih senang memainkan pinsilnya, daripada mengikuti pelajaran. Di kelas satu dan dua bahkan mereka sulit diajar membaca, menulis, bahkan berhitung sekalipun. Penampilan mereka tidak seperti anak jenius atau anak berbakat sebagaimana layaknya yang kita bayangkan. Mereka lebih macam anak urakan tapi dungu. Benarkah demikian?
YANG kita ingat, orang yang terbilang jenius adalah Einstein, Michelangello, Thomas Alfa Edison, Rembrant, van Gogh, Bach, dan sebagainya. Lalu jarang kita dengar lagi ada kelompok jenius yang kelasnya bagai mereka. Kemanakah mereka? Tidak pernah lahirkah? Sebenarnya banyak. Dua persen dari anak yang lahir, adalah kelompok jenius. Tetapi mereka hilang ditelan perkembangan kebudayaan yang lebih banyak peraturannya, pendidikan yang seragam, pemeriksaan anak balita yang lebih teliti, yang semuanya mengacu pada norma normal, sehingga mereka tampak sebagai anak tidak normal, bahkan terdiagnosa berbagai macam gangguan perkembangan.
Misalnya saja yang dijelaskan oleh kelompok psikolog ahli anak-anak berbakat Amerika dalam pertemuan tahunannya di Washington Agustus tahun lalu, yang menjelaskan bahwa akhir-akhir ini di Amerika terjadi banyak kesalahan diagnosa pada anak-anak maupun dewasa berbakat dan berbakat. Kesalahan ini bukan saja dilakukan oleh psikiater, dokter anak, tetapi juga oleh psikolog sendiri, maupun tenaga kesehatan lainnya. Tersering mereka terdiagnosa sebagai autis asperger, PDDNOS, Attention Deficit Hyperactivity Disoredr (ADHD), Oppotitional Defiant Disorder (OD), Obsessive Compulsive Disorder (OCD), dan Mood Disoreder seperti Cyclothymic Disorder, Dysthymic Disorder, Depression, serta Bi-Polar Disoreder.
Kesalahan diagnosa ini umumnya karena mereka memiliki karakteristik perkembangan sosial dan emosional yang diasumsikan secara keliru oleh kelompok profesional.
Sementara itu anak-anak itu adalah anak-anak yang mempunyai risiko psikologik apabila dorongan atau motivasi internalnya yang kuat untuk mengembangkan intelektualnya terhalangi dan tidak tercapai. Risiko ini berupa jatuhnya mereka ke dalam masalah-masalah psikologis seperti depresi yang dalam, perilaku menarik diri, rendah diri yang hebat, atau sebaliknya menjadi anak yang sangat sulit diatur, selalu melawan, dan agresif.
Seorang yang ternyata dewasanya jenius namun kecilnya penuh duka lara adalah Alice Miller, yang tahun 1979 mulai menuliskan kisahnya dalam sebuah buku berjudul: Das Drama des begabten Kindes und die Suche nach dem wahren Selbst, Eine Um-und Fortschreibung (Kisah drama seorang anak jenius-dalam mencari jati dirinya).
Duka lara Alice Miller berawal dari diagnosa para profesional yang menyatakan bahwa dirinya menderita dari diagnosa para profesional yang menyatakan bahwa dirinya menderita penyakit jiwa bawaan yang menurut para dokter akan terus diidapnya seumur hidup. Karena itu ia harus menjalankan berbagai terapi yang dimaksudkan untuk mengurangi gangguan itu.
Emosinya yang meledak-ledak segera diredam dengan berbagai tablet psikotropika. Dia juga pada akhirnya mengalami depresi yang berat, rasa malu, dan rendah diri, serta tak mampu lagi bergaul. Pada waktu ia bisa menyelesaikan sekolah psikologinya, ia menyadari bahwa diagnosa yang diterimanya keliru, sehingga ia sibuk melakukan rehabilitasi diri guna menyembuhkan luka dari berbagai terapi semasa kecilnya itu, yang ia rasakan sebagai penganiayaan psikologis.
Buku Alice Miller yang mengharukan, detail, dan memberi pengertian akan artinya bimbingan pada anak-anak jenius ini, laku keras, hingga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda saja sudah dicetak ulang pada tahun 2000 hingga yang ke 23 kalinya. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.
Duka lara akibat perkembangan khusus pada anak-anak jenius ini, tampak sejak ia dilahirkan. Ia merupakan bayi yang besar dengan ukuran kepala yang besar, sehingga kebanyakan anak-anak ini lahir bukan dengan cara normal tetapi ditarik dengan tang, vacum, atau melalui pembedahan. Sejak bayi ia mengalami alergi susu yang berat, yang menyebabkan kulitnya penuh eksim, serta alergi berbagai macam dan tidak spesifik. Selain alergi berbagai makanan dan sayuran, ia juga alergi Matahari, cuaca dingin, obat-obatan, plastik, logam, pakaian nilon, dan sebagainya. Alerginya bukan hanya di kulit, bisa berupa mencret dan sembelit, tidak bisa bersendawa, batuk pilek, radang telinga, radang mata, dan asma.
Dalam pemeriksaan darah laboratorium sering ditemukan anak-anak ini memiliki berbagai angka laboratorium yang berbeda dengan angka rata-rata anak normal. Terlalu tinggi atau terlalu rendah. Tampak seolah mereka menderita kekurangan berbagai mineral dan vitamin dalam tubuhnya. Banyak di antara mereka yang mengalami gangguan penyerapan makanan, dan kekurangan enzym pencernaan. Mereka juga mempunyai masalah dalam pemilihan jenis makanan yang mereka suka.
Pada saat balita penciuman anak-anak ini belum bekerja baik untuk mencium enaknya bau makanan. Mereka sangat peka dalam penglihatan, dan mempunyai sifat yang sangat perfeksionis. Dalam memilih makanan anak-anak ini hanya memilih satu jenis makanan dengan satu warna yang bagus dan bentuk yang bagus. Karena itu sebagian anak-anak ini berbadan terlalu kurus dengan kepala dan jidat yang besar, atau berbadan besar. Meski hanya makan dengan jumlah yang sedikit dan hanya itu-itu saja, kecuali soal alergi, boleh dikata mereka anak yang tampak sangat sehat, tidak mudah jatuh sakit, dan bergerak terus tidak capai-capainya.
Anak-anak ini mempunyai kemauan internal yang sangat kuat, keras kepala, tetapi tidak tahan rutinitas. Dan usia SD kelas satu atau kelas dua, yang menonjol justru keras kepala dan motivasi internalnya yang besar. Dengan begitu mereka tidak tertarik mengikuti kegiatan belajar di sekolah yang melelahkan karena terlalu rutin. Melihat hal ini guru seringkali menuding mereka sebagai anak yang tidak cerdas. Terlebih anak ini tidak mau mengulang kebolehannya, dan tidak bisa disuruh menunjukkan kebolehannya.
Banyak di antara orangtua yang bercerita bahwa anaknya bisa membaca dan berhitung, tetapi jika diuji di sekolah si anak bungkam. Mereka adalah anak yang didaktif, bukan anak yang deduktif. Kemampuan pengembangan intelektualnya adalah atas dasar motivasi internalnya, dan tidak bisa diajari, atau tidak mau diajari.
Sifat perfeksionis menyebabkan mereka tidak mau mengerjakan tugas memberi warna pada figur-figur dengan potlot berwarna. Mereka merasa hasil pekerjaannya sangat jelek, tidak seindah contohnya yang dibuat oleh percetakan. Perkembangan motorik halus mereka juga mengalami keterlambatan sehingga mereka bagai tidak kuat memegang pinsil barang semenit pun. Jari-jari mereka cepat lelah, dan hasil latihan menulisnya sungguh sangat jelek. Mencong-mencong, tidak lurus, dan bergelombang. Melihat hasil ini semua, lagi-lagi sifat perfeksionis mereka menyebabkan mereka frustrasi.
Banyak di antara anak-anak ini juga mengalami disleksia, yaitu gangguan perkembangan syaraf dan bola mata. Seringkali anak-anak ini memerlukan koreksi karena matanya astigmatis. Disleksia menyebabkannya melihat huruf terbalik-balik, dia bingung mana yang p dan mana yang q, atau mana yang d dan mana yang b. Disleksianya menyebabkan ia tidak mengerti lagi harus menulis dari sebelah kiri atau kanan, akhirnya ia mengalami gangguan menulis, membaca, dan juga berhitung. Lengkaplah penderitaannya, jika ia dituntut bagai anak normal. Apalagi jika dijatuhi mempunyai vonis bahwa ia mempunyai kemampuan atau kecerdasan di bawah rata-rata. Dan lebih ironis lagi, jika setiap sore dia dituntut oleh orangtua untuk mengambil les menulis dan berhitung, serta di rumah dipaksa belajar setengah mati.

ANAK-anak jenius pada masa kecilnya terbanyak memang under-prestasi, maka ia disebut gifted with learning disabilities. Mereka memiliki kemampuan yang tak seimbang, antara kemampuan lisan dan aktivitas. Anak-anak yang sudah baik kemampuan berbicaranya, akan lebih baik dalam uji lisan daripada menulis. Dalam uji kemampuan IQ, pada anak-anak jenius yang mempunyai keterlambatan perkembangan bicara, uji kemampuan verbalnya menunjukkan skor yang sangat rendah, sedang skor performalnya tinggi, dan skor kreativitas rendah.
Gambaran seperti ini persis sama dengan gambaran IQ anak-anak autis. Namun skor kreativitas rendah bukan disebabkan ia tidak kreatif, tetapi lebih disebabkan karena ia menderita tidak percaya diri sebagai akibat dari frustrasi terhadap hasil karya dan perfeksionismenya. Di Belanda untuk anak-anak seperti ini, dilakukan suatu uji yang disebut faalangst test, dari sini terlihat bahwa ia menderita faalangst atau ketidakpercayaan diri dan takut berbuat salah.
Pada anak-anak jenius yang sebetulnya sangat jenius yang kemudian disebut profound gifted, justru sering kali terdiagnosa sebagai autis yang terbelakang mental. Mereka menderita disleksia sangat berat, mengalami keterlambatan bicara sangat tertinggal, dan baru mulai belajar bicara di usianya yang keenam atau ke tujuh, bahkan ke delapan. Ada yang sangat terlambat dalam perkembangan motorik kasarnya, dan mulai berjalan pada usia 4 tahun.
Ia bagai benar-benar anak terbelakang mental yang hidup dalam dunianya sendiri dan sangat tergantung pada orang di sekitarnya. Satu-satunya yang menunjukkan ia bukan mental retarded dan bukan autis adalah ia mampu membangun hubungan emosi dan cinta kasih dengan orangtuanya atau orang lain, dan mampu berbahasa isyarat.
***
Boleh dikata pengetahuan gejala balita jenius yang di Belanda populer dengan sebutan hoogbegaafde kinderen nyaris menjadi pengetahuan umum dalam masyarakat.
Mailing list, website, dan majalah yang merupakan kontak komunikasi antara orang tua dan tenaga profesional banyak dikembangkan oleh masyarakat. Sehari-hari banyak tenaga sosial yang berlatar belakang psikolog dan ortopedagog yang secara sukarela membantu keluarga-keluarga yang terbingung-bingung menghadapi anaknya.
Sekolah khusus yang didirikan lembaga-lembaga swasta yang ditujukan untuk anak-anak jenius ini juga banyak berdiri di hampir di tiap kota. Namun, pemerintah tetap memanfaatkan openbaar basis onderwijs-nya (sekolah dasar) yang dimulai secara wajib di usia empat tahun. Sekolah dasar ini dilengkapi dengan guru yang mendapat brevet khusus untuk pendidikan anak jenius, serta dilengkapi juga dengan materi dan program pendidikan anak jenius. Dalam sekolah-sekolah umum ini anak-anak jenius disosialisasikan secara maksimal bersama anak-anak normal seusia lainnya, dengan tujuan ia mampu membangun dirinya sebagaimana anggota masyarakat normal.
Anak-anak jenius yang telah selesai masa pendidikan sekolah dasarnya bisa melanjutkan ke sekolah yang memang disediakan untuk anak-anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, yaitu atenium.
Meski gejala balita jenius telah dikenal secara luas, namun banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa anak mereka penyandang gen jenius. Setelah timbul berbagai masalah, barulah anak-anak ini betul-betul mendapat perhatian.
Semakin populernya DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) tahun 1994 dari American Psychiatric Association anak-anak berbakat ini terjaring dalam berbagai diagnosa gangguan mental dan mendapat terapi sebagaimana diagnosa itu. DSM IV yang dikeluarkan tahun 1994 itu, pada tahun 1998 barulah mulai dipopulerkan di Belanda. Dalam dua tahun saja terjaringlah sebanyak 65.000 (20 persen) anak usia di bawah 10 tahun dinyatakan sebagai ADHD, yang ternyata memang sebagian besar bukan penderita ADHD. Karena itu, awal tahun ini Pemerintah Belanda menyetop penetapan diagnosa yang begitu dini dapat dijatuhkan pada seorang anak. Setelah melalui pengamatan yang panjang berbulan-bulan yang dibantu oleh orangtua, guru, psikolog, dan petugas sosial, serta berbagai tes, barulah diagnosa itu ditegakkan.
Karena masih terjadi salah diagnosa semacam itu, untuk mencegahnya, kini kepada seluruh balita Belanda telah digunakan status yang disebut status van Wiechen ontwikkeling onderzoek. Dengan menggunakan status ini segera dapat diketahui apakah seorang anak mempunyai perkembangan yang tertinggal atau justru lebih cepat (mengalami loncatan perkembangan).
Pada dasarnya, perkembangan dan pertumbuhan balita berbakat ini mengikuti norma yang skalanya besar, waktunya singkat, sayangnya tidak sinkron. Tampak setiap perkembangannya bergelombang dengan skala yang besar, meledak-ledak, tetapi jangka waktunya tidak lama (tidak melebihi dua bulan), namun berkembang satu-persatu yang kemudian menjadikan tampak tidak harmonis dengan berbagai perkembangan yang seharusnya ada di masa balita.
Gejalanya bisa diikuti sejak bayi itu dilahirkan, yaitu merupakan bayi yang sehat, berat dan mempunyai APGAR skor antara 9-10 pada menit-menit pertama. Ia mempunyai pertumbuhan berat badan yang sangat pesat di bulan-bulan awal, tetapi tiba-tiba berkembang secara tenang saat ia mulai banyak gerak. Mempunyai perkembangan motorik yang hebat luar biasa, terkadang tidak melalui masa merangkak, atau masa berjalan, terus berlari. Mampu manjat-manjat, menarik barang berat, dan sangat kuat. Mempunyai otot-otot yang sangat kencang. Gerakannya cepat dan kuat. Mempunyai kemampuan spatial yang baik, berlari cepat dan mengelak dengan sigap jika akan menabrak sesuatu benda. Periang, mempunyai rasa humor yang tinggi dan senang meledek dan bercanda-canda.
Perkembangan bahasa dan kemampuan bicaranya sangat cepat dengan perbendaharaan kata yang luas, atau justru sangat terlambat bicara. Mengalami gangguan konsentrasi, berupa mudah terangsang pada bunyi-bunyian dan gerakan, mempunyai perhatian cepat berpindah-pindah, kekacauan konsentrasi, namun mampu mengonsentrasikan diri secara intens pada hal yang menjadi perhatiannya. Sering memperhatikan benda bergerak seperti roda, air mengalir, dan gerakan berulang membuka tutup pintu, menyalakan dan mematikan lampu, memainkan mobilan maju mundur ke atas dan bawah, mengucurkan air, memutar-mutar pentil radio serta televisi, dan sebagainya.
Di usianya yang sangat dini, tiga tahun, sering terjadi loncatan perkembangan dimensi, ia mampu menggambar wajah orang terdekatnya, biasanya ayahnya. Menggambar berbagai figur hidup, manusia, binatang, lingkungan, dan alam raya. Mampu menyusun alat mainan Lego menjadi jembatan dan bentuk-bentuk tiga dimensi. Menyukai angka dan bilangan, mengenal dan mengingat berbagai macam logo-logo iklan, dan darinya ia mampu mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.
Keras kepala, perfeksionis, sering terfiksasi pada satu perhatian, tidak tahan rutinitas, mempunyai perkembangan rasa takut yang hebat, sangat emosional mudah berubah temperamen, spontan, sangat sosial, mudah frustrasi, dan pemain sandiwara yang ulung.

memutihkan baju secara alami

baju putih balita anda mulai kusam?seragam putih anak anda sudah berwarna kekuningan?sementara harga pemutih mahal..atau khawatir dengan kandungan kimianya? ada cara untuk memutihkan baju secara alami. setelah baju putih dicuci,rebus sebentar dengan air yang sudah dibubuhi sedikit perasan jeruk nipis.setelah direbus biarkan dingin,peras kemudian jemur. selamat mencoba tips sederhana ini..