makna ikhlash

Memaknai Keikhlasan
oleh Endang TS Amir Senin, 18/01/2010 07:52 WIB Cetak | Kirim | RSS

Pernahkah anda merasa berhak mengatur hidup orang lain karena besarnya jasa anda terhadap orang tersebut? Pernahkah anda merasa harus dihargai dan diperlakukan lebih oleh seseorang karena anda banyak memberikan bantuan terhadap orang tersebut? Jika pernah, inilah yang namanya penyakit “TIDAK IKHLAS”.

Saya pernah, makanya tulisan ini saya buat, sebagai pengingat bagi diri saya pribadi. Ini terjadi puluhan tahun lalu, ketika saya belum menikah. Alhamdulillah, Allah memberi rezeki yang cukup, sehingga saya dapat membantu seseorang membiayai sekolahnya. Kemudian Allah menguji saya dengan sikap anak tersebut yang tidak simpatik. Tenyata pertahanan saya jebol, saya menegur anak tersebut. Si anak tidak terima, padahal saya sudah mengungkapkannya dengan bahasa yang santun.

Si anak mengatakan bahwa saya tidak berhak mengatur hidupnya. Si anak mengatakan kalau mau bantu ya bantu saja ga usah pake ngatur-ngatur.

Pada awalnya saya “marah” dengan sikap dan ucapan anak tersebut. Pada akhirnya saya menyadari bahwa anak tersebut benar. Terlepas dari sikapnya yang sebenarnya tidak pantas, tapi anak ini BENAR-dari sudut pandang saya. Lewat anak inilah sesungguhnya Allah sedang memberi pelajaran kepada saya.

Dari anak inilah saya belajar tentang sungguh-sungguh berbuat tanpa embel apa-apa, apapun yang terjadi.

……

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa kesal ketika seseorang tidak melakukan apa-apa yang kita inginkan, padahal kita telah memberinya bantuan financial tiap bulan.

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa marah ketika seseorang bersikap biasa saja kepada kita, padahal orang tersebut dapat melakukan ini dan itu berkat sokongan dan bantuan dari kita. Kekesalan dan kemarahan itu, namanya penyakit ‘TIDAK IKHLAS”.

Dan virus penyakit ini, menyebar setiap saat, setiap waktu dan sepanjang masa. Oleh sebab itu sesering mungkin kita perlu divaksinasi. Vaksinnya bisa berupa do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada-Nya, sang pembolak-balik hati manusia, agar kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal semata-mata karena-Nya.

Sosok agung penghulu wanita-wanita surga, yaitu Fatimah Az-Zahra r.ha saja, melafalkan do’a tersebut dalam ritual kesehariannya. Mustinya kita berbuat lebih.

…….

Ikhlas adalah mengosongkan hati dari seluruh motivasi pribadi dalam melakukan amal akhirat. Jadi orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadinya atau orang yang tidak mengharapkan imbalan duniawi atas apa-apa yang telah diperbuatnya. Hatinya hanya tertuju kepada Allah. Seperti yang dikatakan Imam Ali r.a bahwa orang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah…

Dalam bahasa sederhana saya, ikhlas adalah ketika kita melupakan amal-amal yang telah kita lakukan. Sebagai contoh yang termudah adalah (Maaf) ketika kita selesai membuang hajat. Apa yang kita rasakan selesai melakukan? Lega,…dan yang pasti kita lupakan. Pernahkah kita menyesali apa yang telah kita keluarkan? Tidak khan? Mengungkit-ngungkitnya? Tidak khan?

Dalam bahasa sederhana saya juga, ikhlas adalah ketika kita tidak merasa melakukan. Maka, apapun yang terjadi setelah kita melakukan suatu amal tidak menyisakan rasa apa-apa dalam hati kita. Sebagai contoh, ketika kita menolong seseorang, dan orang tersebut boro-boro membalas kebaikan kita, berterimakasih saja tidak. Maka atas tindakan orang tersebut kita tidak merasakan apa-apa, tidak kecewa, tidak kesal apalagi marah, wong kita tidak merasa berbuat. Inilah cara saya memahami keikhlasan.

Sebagaimana saya tuturkan diatas, virus penyakit tidak ikhlas menyebar sepanjang masa, maka kita dianjurkan agar menjaga keikhlasan kita sepanjang hayat. Dimulai ketika hendak berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat. Dan yang terakhirlah yang paling sulit, terkadang kita mampu ikhlas saat hendak berbuat dan ketika berbuat,…namun seiring berjalannya waktu, kita terbujuk bisik rayu syaithan untuk membeberkan amal-amal baik yang kita perbuat. Pada saat itulah, gugur amal-amal kita.

Terkadang kita merasa berjasa telah menolong seseorang dan merasa perlu mendapatkan ucapan terimakasih. Padahal kitalah yang harusnya berterimakasih, karena kesulitan orang tersebut, Allah membuka jalan bagi kita untuk berbuat baik, yang berarti Allah membuka ladang amal untuk kita.

Terkadang pula kita merasa perlu menyebut-nyebut apa yang telah kita sedekahkan kepada seseorang atau senantiasa mengingatkan betapa besar jasa kita kepada orang lain atau betapa banyak bantuan yang telah kita berikan, padahal Allah berfirman;

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262)

Fenomena yang sering kita dapatkan, betapa banyak ibu-ibu yang ketika anaknya berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, keluarlah “wejangan” tentang betapa besar jasa ibu dari mulai mengandung, melahirkan, mendidik, dan lain-lain… semata-mata untuk membuat anak merasa berhutang budi. Padahal sesungguhnya itu semua memang kewajiban seseorang ibu. Dan alangkah malangnya ibu tersebut, karena apa-apa yang telah dilakukannya dalam mengasuh anak-anaknya terkesan berpamrih. Dan yang namanya ada pamrihnya, yaaa “TIDAK IKHLAS.” (Ya Allah, lindungilah kami para kaum ibu, dari sifat pamrih dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami. Amiin)

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah Azza Wajalla TIDAK menerima suatu amal kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan hanya mengharap keridhaan-Nya.” (HR Abu Dawud dan An Nasai)

Dikisahkan, pernah Ibunda Aisyah r.ha Menyedekahkan kurma, kemudian beliau bungkus kurma tersebut dengan baik dan memberinya wewangian. Hal tersebut membuat hamba sahayanya heran,”Mengapa kau melakukan itu?” kemudian Aisyah r.ha menjawab “Tahukah kamu bahwa sedekah itu akan jatuh ke tangan Allah terlebih dahulu sebelum jatuh ke tangan penerimanya.” Maka ketika kita menyebut-nyebut apa yang telah kita berikan, sama saja kita mengambil kembali apa yang telah kita berikan dari tangan Allah.

Ada 2 syarat diterimanya sebuah amal yaitu; dilakukan dengan cara yang Ikhlas dan Benar. Ikhlas berarti dikerjakan hanya karena Allah dan Benar berarti sesuai tuntunan sunnah.

Marilah kita memperbanyak do’a agar Allah mengaruniakan kepada kita sifat Ikhlas dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.

Ummu Ali, dalam pergulatannya untuk ikhlas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s