sekolah anak (dikutip dari era muslim)

Memenuhi idealisme pendidikan anak kadang tak ubahnya seperti menanti matahari. Malam terasa begitu panjang. Detik menyerupai jam, hari, bulan, bahkan tahun. Tapi, pagi tak kunjung datang. Kalau pun fajar menjelang, awan mendung kerap menghadang. Redup pagi menjadi kian temaram.

Tak ada orang tua yang rela anaknya tak berpendidikan. Pasti, siapa pun orang tua akan berupaya keras agar anaknya lebih baik dari dirinya. Paling tidak, tidak lebih buruk. Dalam hal apa pun: keimanan, akhlak, pengetahuan, keterampilan. Masalahnya, tidak semua orang tua tergolong mampu. Terutama, soal urusan keuangan.

Dari situlah, pertarungan berkobar. Sulit mengiyakan sebuah ungkapan yang mengatakan kalau pendidikan itu murah. Atau, pendidikan itu kewajiban negara dan hak warganya. Kenyataannya, anggaran bulanan buat satu anak di tingkat sekolah dasar saja bisa menyamai takaran umum anggaran belanja keluarga sepekan. Bahkan, bisa lebih. Bayangkan kalau anak yang sekolah bisa lebih dari tiga. Bayangkan juga kalau ketiga anak itu sekolahnya bukan lagi di sekolah dasar biasa. Tapi, sekolah dasar terpadu. Wah, pusiiing!

Itulah yang dialami Pak Dede. Bapak tiga anak ini kadang merasa bingung mesti berbuat apa. Penghasilan tetapnya tidak lebih dari biaya berlangganan lima belas koran sebulan. Tapi, biaya sekolah anak-anaknya bisa menyamai berlangganan sepuluh koran sebulan. Itu artinya, langganan lima koran sebulan sama dengan biaya hidup keluarga Pak Dede. Belum lagi buat biaya lain: kontrak rumah, listrik, ongkos. Kalau dihitung-hitung, defisit anggaran bisa mencapai separuh dari penghasilan tetapnya.

Kadang Pak Dede ragu mau berbuat apa. Penghematan sudah teramat ketat. Mau hemat gimana lagi. Sepertinya semua ruang gerak pengetatan sudah mentok. Itu pun sudah dibantu-bantu dengan penghasilan tambahan dari isteri: ngajar privat, jual obat suplemen, dagang jilbab. Cuma ada satu ruang yang sepertinya bisa diolah, tapi teramat dijaga Pak Dede: sekolah dasar terpadu.

Andai yang satu ini tidak masuk hitungan, anggaran keluarga Pak Dede mungkin bisa lebih longgar. Karena di sekolah anak inilah anggaran membengkak. Itu pun pada kondisi normal. Kalau ada biaya tambahan seperti sumbangan sekolah, studi wisata, pengambilan raport, daftar ulang, dan lain-lain, pembengkakan bisa di atas normal.

Namun, justru di sektor itu Pak Dede tidak mau bertoleransi. “Biar makan cuma pake garam, asal anak tetap di sekolah ideal,” ungkap Pak Dede ketika isterinya mengajak berpikir ulang soal sekolah anak-anak.

Ajakan sang isteri itu dilatarbelakangi masalah utang yang kian hari tambah lumayan. Justru, penyumbang utang terbesar jatuh pada biaya sekolah. Jarang pembayaran biaya sekolah anak-anak Pak Dede on time alias tepat waktu. Keseringannya nunggak. Kadang berseling satu bulan, sering juga dua hingga tiga bulan. Bahkan, pernah lebih dari enam bulan.

Musibah tunggakan terjadi ketika ada biaya-biaya lain yang minta lewat lebih dulu. Biasanya di soal kesehatan. Kalau ada yang sakit, ya mesti ke dokter. Dan kalau ke dokter, ya nggak bisa ngutang. Kalau sudah begitu, Pak Dede cuma bisa ngelus dada. “Ngutang lagi…, ngutang lagi!” Tentu saja, ngutangnya ke sekolah anak-anak, alias nunggak bayaran.

Kalau sudah begitu, Pak Dede merasa seperti dihimpit dua batu besar. Sesak sekali. Pernah ia benar-benar sedih. Ketika itu, anak sulungnya pulang sekolah dengan cemberut. Wajahnya ditekuk, mulutnya manyun, air mata tampak mulai menggenang. “Ada apa, Kak?” tanya Pak Dede. Yang ditanya tak bereaksi. Cuma cemberutnya yang makin jadi. “Ada apa?” tanya Pak Dede lagi lebih lembut. Tiba-tiba, tangis si sulung meledak. “Ayah sih, belum bayaran. Kakak ditegor-tegor nih sama Pak Guru!” sergah si sulung tak lagi tertahan. Seperti tak tertahannya perasaan pilu Pak Dede menatap air bening menitik lembut dari celah pipi puteri tercintanya.

Membayangkan pertarungan batin anak-anak yang terbentur bayaran, Pak Dede jadi prihatin. Anak-anaklah yang berhadapan langsung dengan sekolah. Tiap hari, tiap jam, tiap saat. Ah, betapa malu anak-anak setiap kali menatap guru selalu teringat bayaran. Sulit membayangkan bagaimana perasaan mereka. Gimana daya serap mereka dengan pelajaran kalau peraasan sudah tak karuan. Kalau guru menghampiri, rasa was-was timbul tenggelam. Udah bayaran apa belum, ya? Yah, ditegur lagi, deh. Begitulah mungkin perasaan anak-anak.

Andai teguran sang guru kepada anak-anak berkenaan dengan prestasi belajar. Andai panggilan khusus menyangkut masalah penghargaan mutu belajar. Bukan yang mereka alami seperti sekarang ini, soal bayaran. “Ah, benar-benar menyakitkan,” suara batin Pak Dede demi membayangkan warna-warni perasaan anak-anaknya.

Lebih jauh, Pak Dede kadang sepintas menyaksikan bagaimana teman-teman sekolah anaknya. Ada yang diantar jemput dengan mobil bagus. Ada yang bersepatu mahal. Ada yang berjam tangan merek terkenal. Bahkan, ada juga yang membawa telepon genggam mahal. “Ah, gimana perasaan anak-anakku. Maafkan aku, Nak!” lagi-lagi bisik batin Pak Dede menyadarkan lamunannya.

Bukan pada tempatnya kalau ia menyalahkan pihak sekolah yang menentukan biaya sekolah ratusan ribu rupiah per bulan. Investasi pendidikan memang mahal. Sementara modal keuangan lembaga Islam begitu terbatas.

Begitu pun, bukan saatnya lagi, Pak Dede meminta-minta dikasih keringanan. Karena ini menjadi dilema buat lembaga Islam yang mulai ingin berkembang: dikasih mengurangi investasi, nggak dikasih mengganggu kesehatan berukhuwah. Dan bayangkan, kalau yang minta keringanan bukan cuma Pak Dede.

Kalau keringanan buat lebih dari satu Pak Dede ditambah lagi dengan ‘musibah’ nunggak, wah, jangan-jangan bisa berimbas buat para guru. Boleh jadi, karena modal terbatas, dua kasus itu menghambat para guru nerima gajian on time. Dengan kata lain, guru-guru yang sudah capek ngajar mesti mensubsidi ketidakmampuan orang-orang seperti Pak Dede.

Pak Dede kian termenung. Ia tahu betul berapa gaji guru sekolah dasar. Walau sekolah terpadu sekali pun. Itulah yang pernah ia dengar dari teman dekatnya. Gaji mereka belum mampu menjangkau banyak hal. Termasuk, menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah dasar terpadu.

Mengenang cerita teman dekatnya, Pak Dede menemukan kesadaran baru. Memang, zhalim orang tua yang tidak menyekolahkan anak-anaknya ke tempat yang ideal. Tapi, akan lebih zhalim lagi jika para guru yang akhirnya mesti menanggung. Mereka harus menunda bahagia, karena gaji belum bisa diterima. “Ah, hidup memang bukan fatamorgana,” ujar Pak Dede menangkap bayang-bayang baru. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Advertisements

makna ikhlash

Memaknai Keikhlasan
oleh Endang TS Amir Senin, 18/01/2010 07:52 WIB Cetak | Kirim | RSS

Pernahkah anda merasa berhak mengatur hidup orang lain karena besarnya jasa anda terhadap orang tersebut? Pernahkah anda merasa harus dihargai dan diperlakukan lebih oleh seseorang karena anda banyak memberikan bantuan terhadap orang tersebut? Jika pernah, inilah yang namanya penyakit “TIDAK IKHLAS”.

Saya pernah, makanya tulisan ini saya buat, sebagai pengingat bagi diri saya pribadi. Ini terjadi puluhan tahun lalu, ketika saya belum menikah. Alhamdulillah, Allah memberi rezeki yang cukup, sehingga saya dapat membantu seseorang membiayai sekolahnya. Kemudian Allah menguji saya dengan sikap anak tersebut yang tidak simpatik. Tenyata pertahanan saya jebol, saya menegur anak tersebut. Si anak tidak terima, padahal saya sudah mengungkapkannya dengan bahasa yang santun.

Si anak mengatakan bahwa saya tidak berhak mengatur hidupnya. Si anak mengatakan kalau mau bantu ya bantu saja ga usah pake ngatur-ngatur.

Pada awalnya saya “marah” dengan sikap dan ucapan anak tersebut. Pada akhirnya saya menyadari bahwa anak tersebut benar. Terlepas dari sikapnya yang sebenarnya tidak pantas, tapi anak ini BENAR-dari sudut pandang saya. Lewat anak inilah sesungguhnya Allah sedang memberi pelajaran kepada saya.

Dari anak inilah saya belajar tentang sungguh-sungguh berbuat tanpa embel apa-apa, apapun yang terjadi.

……

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa kesal ketika seseorang tidak melakukan apa-apa yang kita inginkan, padahal kita telah memberinya bantuan financial tiap bulan.

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa marah ketika seseorang bersikap biasa saja kepada kita, padahal orang tersebut dapat melakukan ini dan itu berkat sokongan dan bantuan dari kita. Kekesalan dan kemarahan itu, namanya penyakit ‘TIDAK IKHLAS”.

Dan virus penyakit ini, menyebar setiap saat, setiap waktu dan sepanjang masa. Oleh sebab itu sesering mungkin kita perlu divaksinasi. Vaksinnya bisa berupa do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada-Nya, sang pembolak-balik hati manusia, agar kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal semata-mata karena-Nya.

Sosok agung penghulu wanita-wanita surga, yaitu Fatimah Az-Zahra r.ha saja, melafalkan do’a tersebut dalam ritual kesehariannya. Mustinya kita berbuat lebih.

…….

Ikhlas adalah mengosongkan hati dari seluruh motivasi pribadi dalam melakukan amal akhirat. Jadi orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadinya atau orang yang tidak mengharapkan imbalan duniawi atas apa-apa yang telah diperbuatnya. Hatinya hanya tertuju kepada Allah. Seperti yang dikatakan Imam Ali r.a bahwa orang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah…

Dalam bahasa sederhana saya, ikhlas adalah ketika kita melupakan amal-amal yang telah kita lakukan. Sebagai contoh yang termudah adalah (Maaf) ketika kita selesai membuang hajat. Apa yang kita rasakan selesai melakukan? Lega,…dan yang pasti kita lupakan. Pernahkah kita menyesali apa yang telah kita keluarkan? Tidak khan? Mengungkit-ngungkitnya? Tidak khan?

Dalam bahasa sederhana saya juga, ikhlas adalah ketika kita tidak merasa melakukan. Maka, apapun yang terjadi setelah kita melakukan suatu amal tidak menyisakan rasa apa-apa dalam hati kita. Sebagai contoh, ketika kita menolong seseorang, dan orang tersebut boro-boro membalas kebaikan kita, berterimakasih saja tidak. Maka atas tindakan orang tersebut kita tidak merasakan apa-apa, tidak kecewa, tidak kesal apalagi marah, wong kita tidak merasa berbuat. Inilah cara saya memahami keikhlasan.

Sebagaimana saya tuturkan diatas, virus penyakit tidak ikhlas menyebar sepanjang masa, maka kita dianjurkan agar menjaga keikhlasan kita sepanjang hayat. Dimulai ketika hendak berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat. Dan yang terakhirlah yang paling sulit, terkadang kita mampu ikhlas saat hendak berbuat dan ketika berbuat,…namun seiring berjalannya waktu, kita terbujuk bisik rayu syaithan untuk membeberkan amal-amal baik yang kita perbuat. Pada saat itulah, gugur amal-amal kita.

Terkadang kita merasa berjasa telah menolong seseorang dan merasa perlu mendapatkan ucapan terimakasih. Padahal kitalah yang harusnya berterimakasih, karena kesulitan orang tersebut, Allah membuka jalan bagi kita untuk berbuat baik, yang berarti Allah membuka ladang amal untuk kita.

Terkadang pula kita merasa perlu menyebut-nyebut apa yang telah kita sedekahkan kepada seseorang atau senantiasa mengingatkan betapa besar jasa kita kepada orang lain atau betapa banyak bantuan yang telah kita berikan, padahal Allah berfirman;

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262)

Fenomena yang sering kita dapatkan, betapa banyak ibu-ibu yang ketika anaknya berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, keluarlah “wejangan” tentang betapa besar jasa ibu dari mulai mengandung, melahirkan, mendidik, dan lain-lain… semata-mata untuk membuat anak merasa berhutang budi. Padahal sesungguhnya itu semua memang kewajiban seseorang ibu. Dan alangkah malangnya ibu tersebut, karena apa-apa yang telah dilakukannya dalam mengasuh anak-anaknya terkesan berpamrih. Dan yang namanya ada pamrihnya, yaaa “TIDAK IKHLAS.” (Ya Allah, lindungilah kami para kaum ibu, dari sifat pamrih dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami. Amiin)

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah Azza Wajalla TIDAK menerima suatu amal kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan hanya mengharap keridhaan-Nya.” (HR Abu Dawud dan An Nasai)

Dikisahkan, pernah Ibunda Aisyah r.ha Menyedekahkan kurma, kemudian beliau bungkus kurma tersebut dengan baik dan memberinya wewangian. Hal tersebut membuat hamba sahayanya heran,”Mengapa kau melakukan itu?” kemudian Aisyah r.ha menjawab “Tahukah kamu bahwa sedekah itu akan jatuh ke tangan Allah terlebih dahulu sebelum jatuh ke tangan penerimanya.” Maka ketika kita menyebut-nyebut apa yang telah kita berikan, sama saja kita mengambil kembali apa yang telah kita berikan dari tangan Allah.

Ada 2 syarat diterimanya sebuah amal yaitu; dilakukan dengan cara yang Ikhlas dan Benar. Ikhlas berarti dikerjakan hanya karena Allah dan Benar berarti sesuai tuntunan sunnah.

Marilah kita memperbanyak do’a agar Allah mengaruniakan kepada kita sifat Ikhlas dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.

Ummu Ali, dalam pergulatannya untuk ikhlas

No way back

No Way Back
Tidak ada jalan kembali
oleh Isa Alamsyah

Ketika Thaoriq bin Jiyad mendarat di Eropa untuk membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia, langkah pertama ketika mendarat adalah membakar kapalnya sehingga pasukannya tahu tidak ada jalan kembali kecuali bertahan atau berhasil.

Ketika dalam suatu pertempuran banyak tentara yang lari mundur, Khalid bin Walid memerintahkan wanita berbaris dibarisan belakang dengan tugas menghadang siapa saja pria yang mundur dari medan pertempuran.

Ketika pasukan Rusia melawan Nazi Jerman yang sangat kuat, mereka menggunakan sistem pertahanan berlapis. Lapis pertama bertugas menghalau tentara Jerman. Lapis kedua untuk menembak lapis pertama kalau mundur sebelum diperintahkan. Jika lapis pertama kalah dan diperintahkan mundur, maka lapis pertama akan mundur akan bergabung dengan lapis kedua, dan dibelakangnya ada lapis ke tiga yang siap menembak lapis pertama dan kedua kalau mundur sebelum diperintahkan.
Sistem ini membuat tentara di front depan tidak punya pilihan kecuali melawan Jerman. Kejam memang tapi Rusia adalah salah satu yang gagal dikuasai Nazi Jerman di PD2.

Katika Umar Mochtar melawan penjajahan Italy di Libya, ia membuat Italy sampai lima kali ganti jendral karena tidak pernah menang. Salah satu keberanian pasukan Umar Moctar ditunjukkan dengan mengikat lutut mereka dengan simpul mati ketika sudah dalam posisi stand by di padang pasir, sehingga mereka tidak bisa lari sekalipun sudah terjepit.

Apa intisari kumpulan kisah ini?
Seringkali kita membiarkan diri kita gagal dalam usaha, dalam prestasi di sekolah, dalam keluarga, karena kita terlalu banyak menyiapkan kemungkinan untuk mundur sehingga tidak serius dan tidak fokus pada apa yang kita lakukan.

Strategi no way back, banyak berhasil karena memang tidak memberikan pilihan pada kita untuk mundur.

Dalam hidup sebenarnya banyak sekali tuntutan no way back, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Ketika kita memutuskan punya anak itu no way back.
Kita tidak bisa mengembalikan anak ke rahim karena tidak punya penghasilan cukup.
Seandainya bayi kita punya kemampuan seperti lapis kedua tentar rusia , atau wanita yang menjaga front belakang pasukan khalid bin walid, mungkin kita bekerja sungguh sungguh.
Seandainya bayi kita bisa menuntut kesejahteraan sebagaimana debt collector menagih kita dengan kasar kita mungkin bisa bekerja lebih keras.

Sebagian besar manusia butuh di semnagatkan atau dipaksa untuk maju.
Kita bahkan perlu memaksa diri kita untuk maju.
Untuk membuat kita sukses, kita harus memanupulasi diri kita dengan

Membuat hukuman sendiri
Salah satu ide adalah membuat hukuman-hukuman yang kita ciptakan sendiri supaya kita patuh pada tujuan untuk sukses.
Ini adalah bentuk paling sederhana yang no risk tapi juga daya manipulasinya rendah adalah membuat hukuman sendiri.
Hukuman bisa bisa drastis bisa berbentuk fisik tapi harus membuat kita jera.
Bentuk yang sederhana dan menyiksa tapi menyehatkan misalnya :
Misal, kalau saya nilai ujian di bawah 8 saya akan push up 100 kali untuk setiap test.
Kalau saya gagal bisnis ini, saya akan jogging setiap hari selama 1 minggu selama 1 jam sehari.
Kalau saya ngomel pada anak tanpa alasan proporsional, saya akan sit up 20 kali.

Dijual Tas “Back to Nature”, Mau??

Buat teman,sodara,dan pembaca sekalian yang ingin memiliki tas cantik, unik, murah…ayo pada beli ke saya bisa Y^!^. Tasnya cantiq2 lho..Asli 100% dari bahan alami ramah lingkungan

Contohnya  dua tas di samping, siapa yang nyangka kalau bahanya dari enceng gongdok! Subhanallah khan…

Yang mau pesen bisa langsung hubungi saya via email atau HP.

Katalog lengkap silakan klik link di bawah oke…Ayo beli..beli..

Katalog Eksklusif

.: www.esyariah.com/?id=firdaus:. | Menuju kebebasan Finansial yang Barokah

.: www.esyariah.com:. | Menuju kebebasan Finansial yang Barokah.

Peluang Usaha Baru, DAHSYAT!!! Bersama Ustadz Yusuf Mansyur meraih keberkahan bisnis. MLM Syariah di Indonesia yang menggunakan support sistem yang sangat mendukung perkembangan jaringan seluruh anggotanya. dengan sistem spill over, memungkinkan memberikan limpahan downline bagi anggota yang baru join atau yang memiliki downline paling sedikit. Syariat Islam memang Adil bukan? Ayo gabung sekarang dan raih kebebasan finansial yang barokah!!  ^-^