BLOG MAMA HEBAT

Posted by: Nety Arbya on: 22 January 2010

Memaknai Keikhlasan
oleh Endang TS Amir Senin, 18/01/2010 07:52 WIB Cetak | Kirim | RSS

Pernahkah anda merasa berhak mengatur hidup orang lain karena besarnya jasa anda terhadap orang tersebut? Pernahkah anda merasa harus dihargai dan diperlakukan lebih oleh seseorang karena anda banyak memberikan bantuan terhadap orang tersebut? Jika pernah, inilah yang namanya penyakit “TIDAK IKHLAS”.

Saya pernah, makanya tulisan ini saya buat, sebagai pengingat bagi diri saya pribadi. Ini terjadi puluhan tahun lalu, ketika saya belum menikah. Alhamdulillah, Allah memberi rezeki yang cukup, sehingga saya dapat membantu seseorang membiayai sekolahnya. Kemudian Allah menguji saya dengan sikap anak tersebut yang tidak simpatik. Tenyata pertahanan saya jebol, saya menegur anak tersebut. Si anak tidak terima, padahal saya sudah mengungkapkannya dengan bahasa yang santun.

Si anak mengatakan bahwa saya tidak berhak mengatur hidupnya. Si anak mengatakan kalau mau bantu ya bantu saja ga usah pake ngatur-ngatur.

Pada awalnya saya “marah” dengan sikap dan ucapan anak tersebut. Pada akhirnya saya menyadari bahwa anak tersebut benar. Terlepas dari sikapnya yang sebenarnya tidak pantas, tapi anak ini BENAR-dari sudut pandang saya. Lewat anak inilah sesungguhnya Allah sedang memberi pelajaran kepada saya.

Dari anak inilah saya belajar tentang sungguh-sungguh berbuat tanpa embel apa-apa, apapun yang terjadi.

……

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa kesal ketika seseorang tidak melakukan apa-apa yang kita inginkan, padahal kita telah memberinya bantuan financial tiap bulan.

Maka,… hati-hatilah,…jika kita merasa marah ketika seseorang bersikap biasa saja kepada kita, padahal orang tersebut dapat melakukan ini dan itu berkat sokongan dan bantuan dari kita. Kekesalan dan kemarahan itu, namanya penyakit ‘TIDAK IKHLAS”.

Dan virus penyakit ini, menyebar setiap saat, setiap waktu dan sepanjang masa. Oleh sebab itu sesering mungkin kita perlu divaksinasi. Vaksinnya bisa berupa do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada-Nya, sang pembolak-balik hati manusia, agar kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal semata-mata karena-Nya.

Sosok agung penghulu wanita-wanita surga, yaitu Fatimah Az-Zahra r.ha saja, melafalkan do’a tersebut dalam ritual kesehariannya. Mustinya kita berbuat lebih.

…….

Ikhlas adalah mengosongkan hati dari seluruh motivasi pribadi dalam melakukan amal akhirat. Jadi orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadinya atau orang yang tidak mengharapkan imbalan duniawi atas apa-apa yang telah diperbuatnya. Hatinya hanya tertuju kepada Allah. Seperti yang dikatakan Imam Ali r.a bahwa orang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah…

Dalam bahasa sederhana saya, ikhlas adalah ketika kita melupakan amal-amal yang telah kita lakukan. Sebagai contoh yang termudah adalah (Maaf) ketika kita selesai membuang hajat. Apa yang kita rasakan selesai melakukan? Lega,…dan yang pasti kita lupakan. Pernahkah kita menyesali apa yang telah kita keluarkan? Tidak khan? Mengungkit-ngungkitnya? Tidak khan?

Dalam bahasa sederhana saya juga, ikhlas adalah ketika kita tidak merasa melakukan. Maka, apapun yang terjadi setelah kita melakukan suatu amal tidak menyisakan rasa apa-apa dalam hati kita. Sebagai contoh, ketika kita menolong seseorang, dan orang tersebut boro-boro membalas kebaikan kita, berterimakasih saja tidak. Maka atas tindakan orang tersebut kita tidak merasakan apa-apa, tidak kecewa, tidak kesal apalagi marah, wong kita tidak merasa berbuat. Inilah cara saya memahami keikhlasan.

Sebagaimana saya tuturkan diatas, virus penyakit tidak ikhlas menyebar sepanjang masa, maka kita dianjurkan agar menjaga keikhlasan kita sepanjang hayat. Dimulai ketika hendak berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat. Dan yang terakhirlah yang paling sulit, terkadang kita mampu ikhlas saat hendak berbuat dan ketika berbuat,…namun seiring berjalannya waktu, kita terbujuk bisik rayu syaithan untuk membeberkan amal-amal baik yang kita perbuat. Pada saat itulah, gugur amal-amal kita.

Terkadang kita merasa berjasa telah menolong seseorang dan merasa perlu mendapatkan ucapan terimakasih. Padahal kitalah yang harusnya berterimakasih, karena kesulitan orang tersebut, Allah membuka jalan bagi kita untuk berbuat baik, yang berarti Allah membuka ladang amal untuk kita.

Terkadang pula kita merasa perlu menyebut-nyebut apa yang telah kita sedekahkan kepada seseorang atau senantiasa mengingatkan betapa besar jasa kita kepada orang lain atau betapa banyak bantuan yang telah kita berikan, padahal Allah berfirman;

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262)

Fenomena yang sering kita dapatkan, betapa banyak ibu-ibu yang ketika anaknya berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, keluarlah “wejangan” tentang betapa besar jasa ibu dari mulai mengandung, melahirkan, mendidik, dan lain-lain… semata-mata untuk membuat anak merasa berhutang budi. Padahal sesungguhnya itu semua memang kewajiban seseorang ibu. Dan alangkah malangnya ibu tersebut, karena apa-apa yang telah dilakukannya dalam mengasuh anak-anaknya terkesan berpamrih. Dan yang namanya ada pamrihnya, yaaa “TIDAK IKHLAS.” (Ya Allah, lindungilah kami para kaum ibu, dari sifat pamrih dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kami. Amiin)

Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah Azza Wajalla TIDAK menerima suatu amal kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan hanya mengharap keridhaan-Nya.” (HR Abu Dawud dan An Nasai)

Dikisahkan, pernah Ibunda Aisyah r.ha Menyedekahkan kurma, kemudian beliau bungkus kurma tersebut dengan baik dan memberinya wewangian. Hal tersebut membuat hamba sahayanya heran,”Mengapa kau melakukan itu?” kemudian Aisyah r.ha menjawab “Tahukah kamu bahwa sedekah itu akan jatuh ke tangan Allah terlebih dahulu sebelum jatuh ke tangan penerimanya.” Maka ketika kita menyebut-nyebut apa yang telah kita berikan, sama saja kita mengambil kembali apa yang telah kita berikan dari tangan Allah.

Ada 2 syarat diterimanya sebuah amal yaitu; dilakukan dengan cara yang Ikhlas dan Benar. Ikhlas berarti dikerjakan hanya karena Allah dan Benar berarti sesuai tuntunan sunnah.

Marilah kita memperbanyak do’a agar Allah mengaruniakan kepada kita sifat Ikhlas dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.

Ummu Ali, dalam pergulatannya untuk ikhlas

No way back

Posted by: Nety Arbya on: 22 January 2010

No Way Back
Tidak ada jalan kembali
oleh Isa Alamsyah

Ketika Thaoriq bin Jiyad mendarat di Eropa untuk membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia, langkah pertama ketika mendarat adalah membakar kapalnya sehingga pasukannya tahu tidak ada jalan kembali kecuali bertahan atau berhasil.

Ketika dalam suatu pertempuran banyak tentara yang lari mundur, Khalid bin Walid memerintahkan wanita berbaris dibarisan belakang dengan tugas menghadang siapa saja pria yang mundur dari medan pertempuran.

Ketika pasukan Rusia melawan Nazi Jerman yang sangat kuat, mereka menggunakan sistem pertahanan berlapis. Lapis pertama bertugas menghalau tentara Jerman. Lapis kedua untuk menembak lapis pertama kalau mundur sebelum diperintahkan. Jika lapis pertama kalah dan diperintahkan mundur, maka lapis pertama akan mundur akan bergabung dengan lapis kedua, dan dibelakangnya ada lapis ke tiga yang siap menembak lapis pertama dan kedua kalau mundur sebelum diperintahkan.
Sistem ini membuat tentara di front depan tidak punya pilihan kecuali melawan Jerman. Kejam memang tapi Rusia adalah salah satu yang gagal dikuasai Nazi Jerman di PD2.

Katika Umar Mochtar melawan penjajahan Italy di Libya, ia membuat Italy sampai lima kali ganti jendral karena tidak pernah menang. Salah satu keberanian pasukan Umar Moctar ditunjukkan dengan mengikat lutut mereka dengan simpul mati ketika sudah dalam posisi stand by di padang pasir, sehingga mereka tidak bisa lari sekalipun sudah terjepit.

Apa intisari kumpulan kisah ini?
Seringkali kita membiarkan diri kita gagal dalam usaha, dalam prestasi di sekolah, dalam keluarga, karena kita terlalu banyak menyiapkan kemungkinan untuk mundur sehingga tidak serius dan tidak fokus pada apa yang kita lakukan.

Strategi no way back, banyak berhasil karena memang tidak memberikan pilihan pada kita untuk mundur.

Dalam hidup sebenarnya banyak sekali tuntutan no way back, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Ketika kita memutuskan punya anak itu no way back.
Kita tidak bisa mengembalikan anak ke rahim karena tidak punya penghasilan cukup.
Seandainya bayi kita punya kemampuan seperti lapis kedua tentar rusia , atau wanita yang menjaga front belakang pasukan khalid bin walid, mungkin kita bekerja sungguh sungguh.
Seandainya bayi kita bisa menuntut kesejahteraan sebagaimana debt collector menagih kita dengan kasar kita mungkin bisa bekerja lebih keras.

Sebagian besar manusia butuh di semnagatkan atau dipaksa untuk maju.
Kita bahkan perlu memaksa diri kita untuk maju.
Untuk membuat kita sukses, kita harus memanupulasi diri kita dengan

Membuat hukuman sendiri
Salah satu ide adalah membuat hukuman-hukuman yang kita ciptakan sendiri supaya kita patuh pada tujuan untuk sukses.
Ini adalah bentuk paling sederhana yang no risk tapi juga daya manipulasinya rendah adalah membuat hukuman sendiri.
Hukuman bisa bisa drastis bisa berbentuk fisik tapi harus membuat kita jera.
Bentuk yang sederhana dan menyiksa tapi menyehatkan misalnya :
Misal, kalau saya nilai ujian di bawah 8 saya akan push up 100 kali untuk setiap test.
Kalau saya gagal bisnis ini, saya akan jogging setiap hari selama 1 minggu selama 1 jam sehari.
Kalau saya ngomel pada anak tanpa alasan proporsional, saya akan sit up 20 kali.

Dijual Tas “Back to Nature”, Mau??

Posted by: Nety Arbya on: 12 January 2010

Buat teman,sodara,dan pembaca sekalian yang ingin memiliki tas cantik, unik, murah…ayo pada beli ke saya bisa Y^!^. Tasnya cantiq2 lho..Asli 100% dari bahan alami ramah lingkungan

Contohnya  dua tas di samping, siapa yang nyangka kalau bahanya dari enceng gongdok! Subhanallah khan…

Yang mau pesen bisa langsung hubungi saya via email atau HP.

Katalog lengkap silakan klik link di bawah oke…Ayo beli..beli..

Katalog Eksklusif

.: www.esyariah.com:. | Menuju kebebasan Finansial yang Barokah.

Peluang Usaha Baru, DAHSYAT!!! Bersama Ustadz Yusuf Mansyur meraih keberkahan bisnis. MLM Syariah di Indonesia yang menggunakan support sistem yang sangat mendukung perkembangan jaringan seluruh anggotanya. dengan sistem spill over, memungkinkan memberikan limpahan downline bagi anggota yang baru join atau yang memiliki downline paling sedikit. Syariat Islam memang Adil bukan? Ayo gabung sekarang dan raih kebebasan finansial yang barokah!!  ^-^

Bagaimana pandangan tentang belajar tematik

Posted by: Nety Arbya on: 8 December 2009

Kemungkinan tidak semua keluarga homeschooling mengadopsi metode ini (kalau dalam homeschooling dikenal dengan istilah Unit Study Method). Kami sendiri selalu berpegang pada spirit pembelajaran tematik yaitu interkorelasi dan interdependensi setiap disiplin ilmu dalam membimbing HS.

BelajarDengan menanamkan pola pikir demikian sejak dini, pembelajaran tematik kami tidak harus selalu ‘predesigned’ seperti pembelajaran di kelas-kelas yang benar-benar menjalankan metode tematik dengan benar.

Durasi belajar sebuah tema tidak selalu sama tergantung pada banyak hal misalnya: ‘genuine interest’ dari anak, ketersediaan materi belajar, momen, dsb. Bagi kami tidak masalah apakah anak seharian mempelajari satu tema yang sama atau berbeda. Dan tidak masalah juga apabila anak ingin mengulang/memperdalam suatu tema tertentu di kemudian hari. Semua berjalan natural dan pada dasarnya dengan menanamkan pola pikir interkorelasi dan interdependensi antar disiplin ilmu, meskipun terkadang pembelajaran tidak semata-mata dirancang tematik, anak bisa menarik benang merah sendiri atas hal baru yang dipelajarinya dan membuat koneksi sendiri berdasarkan ‘previous knowledge’ yang dimilikinya.

by Ines Setiawan (www.sekolahrumah.com)

Hello world!

Posted by: Nety Arbya on: 8 December 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.