Membentuk Kemandirian Anak

Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul tiba-tiba tetapi perlu diajarkan pada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Kemampuan bantu diri inilah yang dimaksud dengan mandiri. Kemandirian fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Sedang kemandirian psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah sendiri.
Ketidakmandirian fisik bisa berakibat pada ketidakmandirian psikologis. Anak yang selalu dibantu akan selalu tergantung pada orang lain karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Akibatnya, ketika ia menghadapi masalah, ia akan mengharapkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan bagi dirinya dan memecahkan masalahnya.
Menurut Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M.Si., dosen Psikologi Perkembangan Universitas Indonesia Jakarta, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian anak :
1. Faktor bawaan.
Ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain
2. Pola asuh.
Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.
3. Kondisi fisik anak.
Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.
4. Urutan kelahiran.
Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpengalaman. Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.
Untuk mengajarkan anak menjadi mandiri, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan kepada anak. Menurut Dra. Tjut Rifameutia Ali-Napis, M.A, dosen Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia, bantuan berlebihan bisa mensugesti anak bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu sendiri.
Ada dua alasan yang menyebabkan orang tua cenderung memberikan bantuan dan perlindungan berlebihan. Yang pertama karena khawatir. Padahal, orang tua yang terlalu khawatir akan membatasi anak untuk mencoba kemampuannya.
Bila perlindungan berlebihan berlanjut terus sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka anak akan selalu mengharapkan bantuan orang lain setiap kali ia menghadapi masalah.
Alasan kedua, karena orang tua tidak sabar. Ketimbang menunggu anak berusaha memakai sepatunya sendiri, orang tua cenderung lekas membantu agar cepat selesai. Akibatnya, anak tidak memperoleh kesempatan untuk mencoba.
Belajar mandiri memerlukan bantuan dan bimbingan orang tua. Hasilnya akan nampak bila orang tua rajin dan konsisten memberikan stimulus. Kemandirian hanya bisa dicapai melalui suatu tahapan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. Misalnya, anak usia 6 tahun tidak bisa begitu saja dapat makan sendiri bila tidak pernah diberi kesempatan memegang sendok sejak usia 18 bulan.
Oleh karena itu, latihan kemandirian mesti dimulai sejak dini sesuai dengan usianya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan sekolah untuk menempa anak menjadi mandiri, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sekolah.
Untuk dapat mengukur kemandirian anak, maka diperlukan pengetahuan mengenai kemampuan apa saja yang bisa diajarkan padanya. Bila kemampuan-kemampuan itu belum dikuasai pada usia yang seharusnya, maka si anak bisa dikategorikan tidak mandiri. Anak usia SD masih disuapi dan dimandikan, misalnya, bisa disebut sebagai anak yang tidak mandiri.
PENILAIAN TINGKAT KEMANDIRIAN SESUAI USIA DAN STIMULUS YANG PERLU DIBERIKAN
Diperlukan ketekunan dan kesabaran orang tua untuk melatih anak menjadi mandiri sesuai usianya. Perlu diingat, keberhasilan yang dicapai anak pada tiap tahapan usia akan berbeda-beda, sesuai stimulus yang diberikan kepadanya.
BAYI
Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, sejak usia 4 bulan bayi sudah bisa diajar beraktivitas menggunakan tangan sebagai dasar keterampilan membantu diri.
1. Meraih dan memasukkan makanan (mulai usia 6 bulan)
Stimulus : letakkan biskuit di piring atau acungkan ke depan bayi. Usahakan terlihat oleh bayi sehingga ia akan berusaha meraihnya.
2. Memegang gelas dan meminum isinya (mulai usia 9 bulan)
Stimulus : sediakan cangkir bergagang dari plastik atau melamin. Isi dengan sedikit air dan biarkan bayi meraih sendiri dan meminum isinya. Biarkan bila ada yang tumpah atau berceceran di baju. Melalui dua aktivitas ini, bayi akan belajar bahwa ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, yaitu makan dan minum tanpa bantuan orang lain.
3. Merentangkan tangan dan kaki saat mengenakan pakaian (mulai usia 10 – 11 bulan)
Stimulus : katakan,” Adek, Mama pakaikan baju ya.. Ayo angkat tangannya..”. Ulanglah kalimat tersebut sampai anak mau mengikutinya. Bayi akan belajar bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memudahkan kita saat membantunya berpakaian.
4. Melepas topi dan kaus kaki (mulai usia 11 – 12 bulan)
Ini adalah dasar kemampuan anak untuk melepas pakaian.
Stimulus : berikan contoh bagaimana cara melepas topi atau kaus kaki. Coba untuk memasangkan topi atau kaus kakinya lagi. Umumnya anak akan mencoba melepaskan karena rasa ingin tahu yang besar. Lakukan berulang-ulang agar anak mendapat banyak kesempatan untuk mencoba.
5. Melakukan dua tugas sekaligus (mulai usia 12 bulan)
Stimulus : berikan biskuit, biarkan ia meraih dengan salah satu tangan. Lalu berikan mainan, biarkan ia meraih dengan tangan yang masih kosong. Bila ia memasukkan mainan, beri tahu ia bahwa mainan tidak boleh dimasukkan ke mulut, sedangkan biskuit boleh. Kemampuan seperti ini akan menjadi dasar yang membuat anak bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.
ANAK USIA 1 – 3 TAHUN
Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, anak usia di atas satu tahun sudah memiliki lebih banyak kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Berbagai kemampuan motorik dan interaksi dengan lingkungan juga sudah lebih berkembang.
1. Minum dari gelas tanpa bantuan (mulai usia 15 bulan)
Stimulus : berikan gelas platik berisi air yang tidak terlalu penuh. Minta anak memegang sendiri dengan tangannya. Biarkan ia melakukannya sambil berdiri atau berjalan. Ganti jenis gelas (gelas bergagang dan tidak bergagang) untuk melatih motorik halusnya.
2. Memakai sendok untuk makan (mulai usia 18 bulan)
Stimulus : berikan sendok dan piring berisi makanan porsi kecil dan biarkan anak mencoba menyuap sendiri makanannya. Maklumi bila makanan masih tumpah dan berhamburan.
3. Membuka sepatu, celana dan baju sendiri (mulai usia 2 tahun) serta ristleting (mulai 3 tahun)
Stimulus : awali dengan melatih anak membuka sepatu tak bertali atau kaus singlet yang mudah dilepas. Tunjukkan cara menarik sepatu dari telapak kaki atau menarik kaus ke atas kepala. Ulangi contoh bila anak masih mengalami kesulitan. Bila anak sudah mahir, tingkatkan dengan baju berkancing. Ajari cara membuka dan menutup ristleting dengan hati-hati. Bila anak masih ragu, tunggu sampai ia bisa melakukan dengan benar sehingga terhindar dari trauma akibat terjepit ristleting.
4. Meraih gelas di atas meja dan meneguk minuman (mulai usia 2 tahun)
Stimulus : letakkan gelas berisi minuman dalam jangkauan anak, sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri saat ia merasa haus. Bila sudah mahir, tingkatkan dengan memberinya contoh cara menuang air dari teko atau memencet tombol dispenser. Pada tahap ini, orang tua perlu berhati-hati ketika meletakkan minuman panas di atas meja dan disarankan mematikan tombol air panas pada dispenser.
5. Membuka pintu (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : umumnya anak lebih mudah belajar dengan pengangan pintu bertangkai ketimbang bulat. Setiap anak akan keluar kamar, berikan contoh bagaimana cara memutar dan menarik gagang pintu, sambil dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Letakkan tangan anak pada pegangan pintu dan bantu ia memutar ke arah yang benar.
6. Mengatakan ingin buang air (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : cermati kebiasaan anak sebelum BAK dan BAB. Bila Anda melihat dorongan ingin BAK atau BAB, tanyakan kepadanya. Dorong ia untuk mengungkapkan kenginan tersebut. Ajak ia ke kamar mandi, dan jelaskan bahwa BAK dan BAB hanya dilakukan di kamar mandi meskipun si kecil belum bisa melakukannya sendiri.
Pada tahapan usia ini, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan. Ketika anak berusia 1.5 tahun, ia akan mulai menjelajah, menantang dirinya sendiri melakukan sesuatu yang sulit seperti menaiki tangga atau memasuki lorong sempit. Tidak seperti tahapan usia sebelumnya, dimana apapun yang dilakukan anak ditentukan oleh orang tua atau pengasuh, pada usia ini anak mulai memiliki kemauan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Bila ia ternyata bisa melakukannya, akan timbul rasa memiliki kemampuan. Apalagi bila saat itu orang tua memberinya pujian, ia akan merasa bangga dan makin terpacu untuk menunjukkan kemampuannya. Inilah modal bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kepercayaan dirinya.
(http://keluargasehat.wordpress.com)

One thought on “Membentuk Kemandirian Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s